Neraca perdagangan Jepang berdasarkan basis neraca pembayaran turun menjadi ¥2.709 miliar pada Februari. Pada periode sebelumnya, angkanya ¥3.145 miliar.
Perubahan ini berarti turun ¥436 miliar dibandingkan angka sebelumnya. Data ini merujuk pada neraca perdagangan yang dihitung dengan metode akuntansi neraca pembayaran (pencatatan transaksi ekonomi antara Jepang dan luar negeri, termasuk perdagangan barang, jasa, dan arus pendapatan).
Surplus Perdagangan Turun dan Prospek Yen
Turunnya surplus perdagangan Jepang dari ¥3,145 triliun menjadi ¥2,709 triliun pada Februari mengindikasikan potensi pelemahan yen. Penurunan ini berarti pasokan mata uang asing yang masuk ke Jepang berkurang, sehingga permintaan terhadap yen (JPY, mata uang Jepang) melemah. Ini mengarah pada pandangan negatif untuk yen dalam beberapa pekan ke depan.
Kami menilai data ini memperkuat peluang kenaikan kurs USD/JPY (nilai dolar AS terhadap yen), terutama karena Bank of Japan (bank sentral Jepang) masih menjalankan kebijakan moneter longgar (suku bunga rendah dan dukungan likuiditas), sementara suku bunga AS masih tinggi. Perbedaan kebijakan ini—yang mendorong USD/JPY naik lebih dari 8% pada 2025—masih menguntungkan dolar. Karena itu, membeli opsi beli (call option, kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) pada USD/JPY dapat menjadi strategi untuk mengambil untung dari yen yang diperkirakan melemah.
Secara historis, yen yang lebih lemah sering mendorong laba perusahaan Jepang, terutama eksportir besar yang tercatat di Nikkei 225 (indeks saham berisi 225 emiten utama di Bursa Tokyo). Pola ini terlihat pada akhir 2024 hingga 2025, ketika pelemahan yen berkorelasi dengan kenaikan pasar saham. Karena itu, posisi beli (long position, untung jika harga naik) pada kontrak berjangka Nikkei 225 (futures, kontrak membeli/menjual di harga dan waktu tertentu) atau opsi beli dapat dipertimbangkan untuk memanfaatkan kondisi ini.
Kenaikan harga minyak mentah global yang belakangan bertahan di atas US$90 per barel kemungkinan ikut menekan surplus karena meningkatkan biaya impor Jepang. Tren ini memperkuat pandangan bahwa yen masih berpotensi tertekan. Namun, perlu dipantau apakah penyebabnya adalah perlambatan permintaan global, yang bisa berdampak negatif bagi saham Jepang meski yen melemah.