Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Kamis bahwa ia telah memerintahkan dimulainya negosiasi langsung dengan Lebanon “secepat mungkin”. Ia mengatakan pembicaraan diperkirakan berfokus pada pelucutan senjata Hezbollah dan pembentukan hubungan damai resmi antara Israel dan Lebanon.
Laporan ini pertama kali diterbitkan oleh koresponden Axios Barak Ravid di X. Pembicaraan langsung akan meninggalkan pendekatan sebelumnya yang mengandalkan kontak tidak langsung dan mediator (pihak penengah).
Pelucutan Senjata Hezbollah dan Kendala Politik
Hezbollah didukung Iran serta memiliki sayap bersenjata (unit tempur bersenjata) dan peran dalam politik Lebanon. Rencana yang menempatkan pelucutan senjata sebagai inti diperkirakan menghadapi penolakan dari Hezbollah dan Iran, yang mendukung kelompok itu.
Sistem politik Lebanon terpecah, sehingga dapat memperlambat atau menghambat kemajuan. Peran Hezbollah sebagai milisi (kelompok bersenjata non-negara) sekaligus partai politik, serta kepentingan Iran, juga dapat memengaruhi kesepakatan yang mungkin dicapai.
Pengumuman negosiasi langsung ini menambah ketidakpastian dan bisa memicu strategi perdagangan berbasis volatilitas (naik-turun harga). Meski berita ini bisa menenangkan pasar dan menurunkan premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik), ketenangan tersebut berpotensi sementara. Pergerakan pasar dapat tajam mengikuti judul berita dalam beberapa pekan, sehingga posisi “long volatilitas” (diuntungkan saat volatilitas naik) melalui opsi (kontrak hak beli/jual) dinilai menarik.
Harga minyak sepanjang 2024 dan 2025 sensitif terhadap ketegangan kawasan, dan kabar ini bisa memicu penurunan cepat (reaksi spontan) pada Brent. Namun, karena pelucutan senjata Hezbollah merupakan tugas sangat besar, penurunan ini bisa menjadi peluang membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu). Jika pembicaraan gagal, harga minyak bisa kembali mendekati level tertinggi tahun lalu, terutama saat persediaan global tetap ketat.