GBP/USD naik di atas 1,3400 pada Kamis dan berada di 1,3441, menguat 0,36%. Kenaikan ini terjadi saat selera risiko pasar melemah dan Pound tetap ditopang.
Pasangan ini bergerak sempit di sekitar 1,3400 pada sesi Asia. Pergerakan ini disebut sebagai upaya mempertahankan Exponential Moving Average (EMA) 20 hari, yaitu rata-rata pergerakan yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru untuk membaca arah tren jangka pendek.
Pasar Memantau Gencatan Senjata Timur Tengah
Pasar menyoroti gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan, disepakati AS dan Iran pada Rabu dini hari. GBP/USD melonjak lebih dari 1% pada Rabu dan menyentuh puncak sesi di dekat 1,3485.
Kenaikan kemudian mereda, dengan pasangan ini turun lagi menuju 1,3400 pada sesi Amerika Utara. Ketidakpastian meningkat setelah serangan Israel terhadap Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon berlanjut.
Wakil Presiden JD Vance menyebut kesepakatan itu sebagai “gencatan senjata yang rapuh”. Israel melancarkan serangan terbesar ke Lebanon sejak perang dimulai dan menyatakan front Hezbollah tidak tercakup dalam ketentuan gencatan senjata.
Pergeseran ke Inflasi dan Volatilitas
Gencatan senjata runtuh pada akhir tahun itu, memicu kembali gangguan pengiriman dan lonjakan harga energi yang masih mendorong inflasi global. Pekan ini, data CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen—pengukur inflasi) Inggris untuk Maret lebih tinggi dari perkiraan di 3,5%, sehingga peluang pemangkasan suku bunga Bank of England terlihat semakin jauh. Ini membuat pergerakan Pound tetap sensitif, meski ekonomi mulai menunjukkan tanda melambat.
Akibatnya, GBP/USD turun tajam dan kini diperdagangkan di sekitar 1,2350. Dolar AS tetap kuat, didukung laporan Non-Farm Payrolls (NFP—data jumlah penambahan pekerjaan di luar sektor pertanian AS) pekan lalu yang di atas 250.000 pekerjaan. Data ini memperkuat sikap Federal Reserve “lebih tinggi lebih lama”, artinya suku bunga cenderung dipertahankan tinggi untuk periode lebih panjang. Perbedaan antara ekonomi Inggris yang melambat namun inflasinya sulit turun dan ekonomi AS yang masih kuat terlihat jelas.
Dalam kondisi ini, pelaku pasar dapat mempertimbangkan “membeli volatilitas” (volatilitas = tingkat besar-kecilnya pergerakan harga). Situasi geopolitik tetap tegang dan eskalasi bisa memicu pergerakan tajam yang sulit diprediksi. Volatilitas tersirat satu bulan (perkiraan volatilitas dari harga opsi) untuk GBP/USD sudah naik ke 9,5%, dan strategi opsi seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual pada harga kesepakatan yang sama untuk mengambil peluang jika harga bergerak besar ke salah satu arah) berpotensi diuntungkan jika terjadi pergerakan besar.
Tren pasangan ini terlihat jelas cenderung turun. Membeli put out-of-the-money (opsi jual dengan harga kesepakatan di bawah harga pasar saat ini, biasanya lebih murah) bisa menjadi cara lebih hemat untuk berspekulasi penurunan lanjutan menuju 1,2200, level yang terlihat saat guncangan energi akhir 2025. Bear put spread (membeli opsi jual lalu menjual opsi jual lain pada level lebih rendah untuk menekan biaya, dengan batas keuntungan dan risiko yang jelas) juga bisa digunakan untuk menurunkan biaya masuk sekaligus membatasi risiko.
Namun, kewaspadaan tetap penting karena berita bisa membalikkan arah dalam sekejap. Menggunakan opsi membuat risiko lebih terukur—penting ketika pendorong utama pasar adalah konflik geopolitik yang sulit diprediksi. Penurunan ketegangan yang tidak terduga bisa memicu lonjakan cepat, sehingga posisi jual berleverage (menggunakan dana pinjaman/eksposur besar) di futures atau spot FX sangat berbahaya.
Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.