Perak (XAG/USD) mengakhiri kenaikan lima hari, turun lebih dari 2,5% ke sekitar US$73,80 per ons troy (satuan berat logam mulia) pada perdagangan Asia, Senin. Permintaan melemah karena biaya energi yang naik memicu kekhawatiran inflasi (kenaikan harga secara umum) dan meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga tertunda atau kebijakan moneter (pengaturan suku bunga dan likuiditas) lebih ketat oleh Federal Reserve (bank sentral AS) dan bank sentral lain.
West Texas Intermediate (WTI, patokan harga minyak AS) mengawali pekan dengan bullish gap (harga pembukaan melompat naik dibanding penutupan sebelumnya), naik sekitar 7,5% ke dekat US$97,10 per barel. Harga minyak naik di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz (jalur pelayaran utama pengiriman minyak).
Guncangan Minyak Dan Kekhawatiran Inflasi
Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz setelah perundingan damai di Islamabad gagal. Komando Pusat AS menyatakan blokade lalu lintas laut (pergerakan kapal) dari dan menuju pelabuhan Iran akan dimulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.
Data inflasi AS juga memperkuat perkiraan suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) tahunan sebesar 3,3% pada Maret, naik dari 2,4% pada Februari, dengan CPI bulanan 0,9% dibanding 0,3% sebelumnya.
Core CPI (inflasi inti, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak) naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Data dirilis pada Jumat.
Dengan Selat Hormuz praktis tertutup, volatilitas pasar (naik-turun harga) diperkirakan melonjak tajam di semua kelas aset (kelompok instrumen seperti saham, obligasi, komoditas, valuta asing). Pelaku pasar opsi (kontrak hak beli/jual pada harga tertentu) perlu bersiap menghadapi premi (biaya opsi) yang jauh lebih tinggi. Strategi menjual opsi bisa terlihat menarik, tetapi risiko arah pergerakan harga sangat besar. Pada Februari 2022, CBOE Volatility Index (VIX, indeks “pengukur ketakutan” pasar saham AS) lebih dari dua kali lipat hingga di atas 36 dalam dua pekan setelah guncangan geopolitik, dan pergerakan serupa bisa terulang.
Reaksi cepat pelaku pasar derivatif energi (produk turunan seperti kontrak berjangka dan opsi) biasanya memosisikan diri untuk harga lebih tinggi, karena blokade sebesar ini memicu krisis pasokan. Salah satu pendekatan adalah membeli call option (opsi beli) pada futures WTI (kontrak berjangka WTI) untuk menangkap potensi kenaikan sambil membatasi risiko. Pada 2022, harga WTI melonjak dari sekitar US$92 ke di atas US$123 per barel hanya dalam dua pekan, dan situasi ini bisa lebih parah.
Saham Logam Mulia Dan Transaksi Dolar
Kombinasi guncangan energi dan Federal Reserve yang hawkish (cenderung menaikkan suku bunga/lebih ketat) berdampak negatif bagi pasar saham, sehingga posisi bearish (bertaruh harga turun) menjadi relevan. Membeli put option (opsi jual) pada indeks S&P 500 atau Nasdaq 100 memberi cara langsung untuk mengambil keuntungan jika saham turun. Saat lonjakan minyak awal Maret 2022, S&P 500 turun lebih dari 5% ketika pasar menyesuaikan proyeksi ekonomi.
Turunnya perak menunjukkan pasar saat ini lebih fokus pada suku bunga tinggi dibanding risiko geopolitik, meski kondisi bisa cepat berubah. Permintaan safe haven (aset lindung nilai saat krisis) pada logam mulia sementara tertahan, sehingga put option jangka pendek pada perak terlihat masuk akal. Namun, perlu tetap fleksibel karena kepanikan yang lebih luas dapat membalikkan arah dan mendorong emas serta perak melonjak.
Data CPI yang kuat ditambah kenaikan harga minyak menekan The Fed, sehingga kenaikan suku bunga lanjutan menjadi kemungkinan nyata dan memperkuat narasi higher for longer (suku bunga tinggi bertahan lebih lama). Ini mendukung penguatan Dolar AS, yang kerap menjadi safe haven saat krisis global. Posisi long (bertaruh naik) pada U.S. Dollar Index (DXY, indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) dapat dipertimbangkan, mengingat DXY pernah naik hampir 15% sepanjang siklus kenaikan suku bunga The Fed pada 2022.