Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz setelah pembicaraan AS–Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan usai sesi 21 jam. Brent naik 9% ke US$103 per barel, aset berisiko turun, Dolar menguat, dan mata uang Asia melemah.
Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) kemudian mengatakan penegakan akan lebih sempit daripada penutupan total. Meski begitu, cara penerapannya di lapangan—termasuk memeriksa asal kapal—masih belum jelas.
Konteks Diplomatik Dan Guncangan Pasar
Pembicaraan akhir pekan itu adalah kontak diplomatik tingkat tertinggi AS–Iran dalam empat dekade. Iran mengirim delegasi besar yang mencakup pejabat ekonomi seperti gubernur bank sentral.
Laporan menyebut hari kedua berlanjut ke pertemuan tingkat teknis dan ahli (pembahasan detail, misalnya aturan, data, dan mekanisme pelaksanaan). Ini menunjukkan diskusi melampaui pernyataan umum.
Tiga kapal tanker raksasa (supertanker: kapal pengangkut minyak berkapasitas sangat besar) melintasi Selat tersebut selama akhir pekan, membawa sekitar 6 juta barel. Ini disebut sebagai arus tanker non-Iran terbesar sejak konflik Iran/Timur Tengah dimulai.
Pergerakan tanker berikutnya akan bergantung pada apakah permusuhan kembali pecah dan bagaimana blokade ditegakkan, termasuk apakah kapal China yang membawa minyak Iran akan dihentikan.
Volatilitas Jadi Fokus Utama
Melihat peristiwa akhir pekan, lonjakan Brent ke US$103 kami nilai baru reaksi awal. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (CBOE Crude Oil Volatility Index/OVX—ukuran perkiraan besar-kecilnya naik-turun harga berdasarkan harga opsi) melonjak ke 65, level yang tidak terlihat sejak guncangan energi awal 2022, menandakan ketidakpastian ekstrem. Bagi pelaku pasar, ini berarti harga opsi (kontrak yang memberi hak beli/jual di harga tertentu) menjadi mahal, namun risiko pergerakan harga yang lebih besar tetap sangat tinggi.
Fokus utama dalam jangka sangat pendek sebaiknya pada volatilitas (besarnya fluktuasi harga), bukan menebak arah naik/turun. Karena penegakan blokade belum jelas, strategi opsi seperti straddle atau strangle pada futures Brent (kontrak berjangka: perjanjian jual-beli di masa depan; straddle/strangle: membeli opsi beli dan opsi jual untuk memanfaatkan pergerakan besar ke salah satu arah) bisa menjadi cara untuk memanfaatkan potensi lonjakan pergerakan harga, baik naik maupun turun. Kami menilai beberapa hari ke depan akan menghasilkan volatilitas aktual (realized volatility: pergerakan yang benar-benar terjadi) lebih tinggi daripada volatilitas yang tersirat di harga opsi (implied volatility: perkiraan pasar), seiring laporan interaksi awal angkatan laut.
Kami memantau data pelacakan tanker, yang mengonfirmasi bahwa meski beberapa supertanker lolos, lalu lintas keseluruhan melalui Selat melambat 40% dalam 48 jam terakhir. Jalur ini menyumbang lebih dari 20% konsumsi minyak global, sehingga gangguan berkepanjangan akan memperketat pasar secara mendasar. Fakta pasokan fisik ini menopang risiko kenaikan harga, meski ada upaya diplomatik.
Transaksi kunci yang kami amati adalah pelebaran selisih Brent–WTI (spread: selisih harga; WTI adalah patokan minyak AS) yang sudah melebar ke atas US$9. Blokade langsung mengancam pasokan yang dihargai dengan acuan Brent, sementara WTI berbasis AS relatif tidak terdampak, sehingga premi ini berpotensi melebar lagi. Kami juga melihat tekanan besar pada mata uang negara pengimpor energi, dengan kurs USD/JPY (nilai Dolar AS terhadap Yen Jepang) menembus 155 karena ketahanan energi Jepang dipertanyakan.
Situasi ini terasa lebih rapuh dibanding ketegangan sepanjang 2025 yang sebagian besar hanya retorika (ancaman lewat pernyataan). Negosiasi tingkat tinggi yang serius tepat sebelum aksi ini menciptakan dinamika harapan dan kekhawatiran di pasar. Ini berarti kabar positif, seperti pembatalan langkah secara diplomatik, bisa memicu koreksi tajam (penurunan cepat setelah kenaikan) pada harga minyak.
Pertanyaan kritisnya adalah bagaimana AS menangani tanker yang menuju China, yang tetap mengimpor minyak Iran. Jika kapal berbendera China ditantang (misalnya dihentikan atau diperiksa paksa), kita bisa melihat kenaikan lanjutan yang besar pada harga minyak dan aksi jual pada aset berisiko. Sebaliknya, jika tanker ini dibiarkan lewat, itu menandakan blokade berpori (tidak ketat) dan harga di atas US$100 mungkin tidak bertahan.