HSBC: Ketegangan Timur Tengah dan guncangan harga minyak mengerek dolar, memperkuat korelasi USD–minyak lewat arus safe haven

    by VT Markets
    /
    Apr 13, 2026

    HSBC menyebut geopolitik Timur Tengah dan harga minyak sebagai pendorong utama pergerakan dolar AS dan mata uang utama lain di kelompok G8. Bank ini menilai hubungan terbaru antara dolar dan minyak makin kuat, dipicu oleh **guncangan pasokan** (gangguan tiba-tiba pada ketersediaan minyak) dan **arus safe haven** (perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman saat risiko naik).

    Bank tersebut menilai arah pasar bisa sangat bergantung pada gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan pergerakan harga minyak. HSBC menambahkan, perubahan besar pada **risiko geopolitik** (ketegangan politik yang bisa memicu konflik) dapat mendorong pasar berganti antara **risk-off** (investor menghindari risiko) dan **risk-on** (investor berani mengambil risiko).

    Kaitan Minyak dan Dolar Menguat

    HSBC menyebut harga minyak yang lebih rendah dapat membantu negara **importir energi bersih** (lebih banyak mengimpor energi daripada mengekspor) dan mendukung **selera risiko** (minat investor pada aset berisiko). Dalam kondisi “risk-on”, mata uang yang sensitif terhadap pertumbuhan cenderung mengungguli mata uang “safe-haven” (mata uang yang dicari saat pasar takut).

    HSBC memperkirakan yen Jepang bisa tertinggal, serta menyoroti risiko **intervensi** (aksi pemerintah/bank sentral masuk pasar valas untuk memengaruhi nilai tukar) ketika USD/JPY berada di kisaran 158–162.

    HSBC menilai bila minyak stabil di sekitar US$100, tekanan jangka pendek pada negara importir bersih dapat berkurang. Pada skenario ini, risiko **resesi** (penurunan aktivitas ekonomi) dinilai terbatas, sementara kekhawatiran **fiskal** (kondisi anggaran negara/utang pemerintah) dapat meningkat. HSBC memperkirakan pasar valuta asing bergerak dalam **rentang** (naik-turun terbatas) dengan kecenderungan ringan menguat ke arah dolar.

    HSBC juga menyebut gangguan berkepanjangan pada aliran minyak dan gas lewat Hormuz dapat melemahkan sentimen, meningkatkan permintaan aset safe-haven, dan merugikan importir bersih melalui efek **terms of trade** (perubahan rasio harga ekspor terhadap impor yang memengaruhi daya beli suatu negara). Jika kaitan dolar–minyak melemah, faktor dasar pasar valas sebelum konflik bisa kembali lebih berpengaruh. HSBC menambahkan The Fed tidak sedang dalam siklus kenaikan suku bunga maupun bersikap sangat agresif (**hawkish**: condong mengetatkan kebijakan untuk melawan inflasi).

    Kami menilai geopolitik Timur Tengah dan harga minyak saat ini menjadi penggerak utama pasar valas. Arah pasar kemungkinan ditentukan oleh tanda-tanda nyata, seperti gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang langsung memengaruhi harga minyak. Saat ketegangan naik-turun, minyak bisa bergerak tajam dan sentimen pasar ikut berubah.

    Sinyal yang Perlu Dipantau di Pasar

    Sejak konflik meningkat pada akhir 2025, dolar AS dan harga minyak terlihat bergerak lebih searah. Dengan Brent baru-baru ini diperdagangkan mendekati US$98 per barel dan **Dollar Index (DXY)** (indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan di atas 106, hal ini mencerminkan kekhawatiran pasokan energi dan investor yang mencari dolar sebagai safe haven. Ini berbeda dari pola yang terlihat pada sebagian besar tahun lalu.

    Gangguan berkepanjangan kemungkinan merugikan negara importir energi bersih seperti kawasan Euro dan Jepang. Data kuartal I 2026 sudah menunjukkan tagihan impor energi Uni Eropa meningkat, yang dapat terus menekan euro. Pelaku pasar dapat mencermati eskalasi yang bisa mendukung strategi untuk mengantisipasi pelemahan EUR/USD.

    Yen Jepang sangat lemah, tetapi perlu waspada karena USD/JPY kini diperdagangkan di atas 159. Level serupa di sekitar 160 pernah memicu intervensi otoritas Jepang pada akhir 2025. Risiko ini membuat posisi yang bertaruh yen terus melemah menjadi lebih berbahaya, karena aksi pemerintah bisa memicu pembalikan tajam.

    Jika hubungan positif antara minyak dan dolar mulai melemah, itu bisa menjadi sinyal awal kembalinya pola lama pasar. Misalnya, jika harga minyak turun kembali mendekati US$85 seperti akhir tahun lalu, selera risiko berpotensi membaik dan menguntungkan **mata uang komoditas** (mata uang negara eksportir komoditas seperti minyak, logam, atau pangan). Pantau kelancaran dan keamanan pelayaran tanker melalui Selat Hormuz sebagai sinyal penting perubahan ini.

    Perlu dipertimbangkan juga faktor yang bisa membatasi penguatan dolar secara luas. The Fed tidak menaikkan suku bunga, dan meski data inflasi Maret sedikit tinggi di 3,1%, The Fed belum menjadi lebih agresif. Sikap ini bisa menahan reli dolar jika kekhawatiran geopolitik mulai mereda.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code