Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser mengatakan dewan belum memiliki “keyakinan tinggi” bahwa suku bunga tunai (cash rate, yaitu suku bunga acuan RBA) saat ini akan mengembalikan inflasi ke target 2–3%. Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi santai di New York.
Hauser mengatakan inflasi “terlalu tinggi” dan para pembuat kebijakan sedang menilai guncangan pendapatan (income shock, yaitu penurunan daya beli rumah tangga karena harga energi naik) dari kenaikan harga minyak terkait konflik Timur Tengah. Ia mengatakan suku bunga perlu ditetapkan pada level yang membawa inflasi kembali ke target, dan bisa naik bila diperlukan.
Guncangan Harga Minyak Naikkan Risiko Inflasi
Staf RBA memperkirakan bulan lalu bahwa jika minyak bertahan di sekitar US$100 per barel, kenaikan harga bensin akan mendorong inflasi utama (headline inflation, yaitu inflasi total termasuk komponen yang bergejolak seperti energi dan pangan) ke sekitar 5% secara tahunan pada kuartal II. Itu akan berada di atas kisaran target 2–3%.
TD Securities kini memproyeksikan kenaikan 25 basis poin (basis point, yaitu 0,01%; jadi 25 basis poin = 0,25 poin persentase) pada rapat berikutnya. Lembaga itu juga memperingatkan suku bunga tunai mungkin perlu naik di atas 4,35% setelah Mei jika inflasi akibat minyak berlanjut.