Pejabat Uni Eropa dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) memperkirakan kesepakatan AS–Iran bisa memakan waktu hampir 6 bulan, setelah terjadi perselisihan soal pengayaan uranium (proses meningkatkan kadar uranium untuk bahan bakar—atau berpotensi mendekati kebutuhan senjata) dan kemampuan nuklir (kapasitas teknologi untuk menghasilkan dan menggunakan bahan nuklir). Setelah perkiraan waktu ini dibahas, kontrak berjangka minyak mentah (crude oil futures, yaitu perjanjian beli/jual minyak pada harga dan waktu tertentu) naik lebih dari US$3 dalam sehari ke sekitar US$98 per barel.
Selat Hormuz ditutup selama gencatan senjata 10 hari, dan setiap hari penutupan menambah tekanan pada ekonomi negara-negara GCC. Pejabat UE dan GCC memantau berapa lama gencatan senjata bertahan.
Sensitivitas Pasar terhadap Jadwal Diplomasi
Eropa menyiapkan rencana untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz setelah permusuhan berakhir. Usulan itu akan mengecualikan “pihak yang berperang”, yang didefinisikan Wall Street Journal sebagai AS, Israel, dan Iran.
Masalah pengiriman masih berlanjut selama selat tetap ditutup. Bloomberg melaporkan bahwa perselisihan antara penyewa kapal (charterers, pihak yang menyewa kapal untuk mengangkut kargo) dan pemilik kapal (shipowners) membuat transaksi untuk memuat minyak di Teluk Persia hampir tidak terjadi, dan biaya sewa kapal memasukkan premi risiko (biaya tambahan untuk menutup risiko) sekitar US$475.000 per hari.
Artikel tersebut menyebut dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI, perangkat lunak yang membantu menyusun teks) dan ditinjau editor.
Posisi Opsi dan Risiko Pengapalan
Pentingnya Selat Hormuz bersifat strategis karena menjadi titik sempit jalur pelayaran (chokepoint, jalur sempit yang jika terganggu bisa menghambat arus barang). U.S. Energy Information Administration (EIA) menyebut bahwa bahkan pada 2026, sekitar 21 juta barel minyak, atau sekitar 21% konsumsi cairan minyak bumi global, melewati selat itu setiap hari. Gangguan apa pun, bahkan ancamannya, langsung berdampak besar pada pasokan global.
Dengan laporan terbaru soal mandeknya pembicaraan diplomatik dan gesekan baru terkait pengayaan uranium, situasinya mirip menjelang ketegangan 2025. Terlihat pasar terlalu tenang, dengan CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX) (indeks yang mengukur perkiraan gejolak harga minyak dari harga opsi) berada dekat level terendah historis, menandakan risiko gangguan belum tercermin dalam harga. Ini membuat posisi lindung nilai memakai derivatif (instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti aset acuan) relatif murah saat ini.
Biaya pengapalan yang sangat tinggi pada 2025, ketika premi risiko mencapai US$475.000 per hari, menunjukkan dampak keuangan nyata dari penutupan. Bagi pelaku pasar, ini berarti membeli opsi beli (call options, hak untuk membeli pada harga tertentu) berjangka lebih panjang pada kontrak berjangka WTI atau Brent bisa menjadi langkah yang masuk akal. Strategi ini memberi peluang meraih keuntungan jika harga melonjak, sambil membatasi kerugian pada biaya premi yang dibayar.
Membeli opsi beli tersebut berfungsi seperti asuransi biaya murah terhadap lonjakan risiko geopolitik. Jika ketegangan meningkat dan selat kembali terancam, nilai opsi ini bisa naik tajam. Ini memberi cara berisiko terukur untuk bersiap menghadapi gejolak seperti tahun lalu.