WTI Naik untuk Sesi Keempat, Ketegangan Selat Hormuz dan Rumor soal Ghalibaf Picu Kekhawatiran Pasokan serta Negosiasi

    by VT Markets
    /
    Apr 24, 2026

    WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) naik pada Kamis untuk hari keempat, di tengah kekhawatiran gangguan aliran pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Harganya diperdagangkan di sekitar US$94,56 per barel setelah sempat menyentuh hampir US$97, naik 2,8% pada hari itu.

    Laporan menyebut Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, mundur dari tim perunding setelah diduga ada campur tangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC, pasukan elite Iran), menurut N12 News Israel. Laporan itu menggambarkan perpecahan di internal pimpinan Iran dan makin kecilnya peluang kemajuan cepat dalam perundingan AS-Iran.

    Selat Hormuz disebut berada dalam “blokade ganda” oleh pasukan AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa AS punya “kendali total” atas selat itu dan “tidak ada kapal yang dapat masuk atau keluar” tanpa persetujuan Angkatan Laut AS.

    Trump juga mengatakan ia memerintahkan Angkatan Laut untuk “menembak dan membunuh kapal apa pun” yang menaruh ranjau di jalur pelayaran, serta menyebut rute itu “ditutup rapat” hingga Iran menyetujui kesepakatan. Pejabat Iran mengatakan AS harus mencabut blokade laut, yang oleh Teheran disebut pelanggaran gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembakan).

    The Washington Post mengutip penilaian Pentagon yang menyebut perlu hingga enam bulan untuk membersihkan ranjau secara penuh dari selat itu. Tasnim dan perusahaan pelayaran melaporkan IRGC menyita dua kapal pada Rabu.

    Bagi pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), ini berarti volatilitas tersirat pada opsi minyak mentah tetap tinggi dibanding kondisi historis sebelum krisis 2025. Indeks CBOE Crude Oil ETF Volatility Index/OVX (ukuran ekspektasi gejolak harga dari harga opsi) yang sempat melonjak mendekati 60 selama blokade, kini bertahan di sekitar 35, jauh di atas kisaran 25-30 pada periode yang lebih tenang. Ini menunjukkan pasar masih memasang peluang besar terhadap gangguan pasokan di masa depan.

    Dengan latar ini, strategi yang diuntungkan saat harga melonjak namun membatasi biaya premi opsi (biaya membeli opsi) perlu dipertimbangkan. Salah satu pendekatan adalah membeli call spread WTI berjangka panjang (membeli opsi beli di satu harga kesepakatan/strike dan menjual opsi beli di strike lebih tinggi untuk menekan biaya). Strategi ini memberi ruang meraup kenaikan bila konflik di Teluk memanas lagi, tetapi membatasi biaya awal saat volatilitas tinggi.

    Situasi pasokan juga mendukung bias hati-hati namun cenderung bullish (pandangan harga berpeluang naik). Setelah gangguan tahun lalu, OPEC+ (kelompok OPEC dan sekutu seperti Rusia) menaikkan produksi, dan data terbaru EIA (lembaga energi AS) menunjukkan kapasitas cadangan kolektif mereka kini tinggal 2,5 juta barel per hari, terendah dalam beberapa tahun. Artinya, bantalan pasokan global untuk menyerap guncangan baru makin tipis.

    Selain itu, meski Selat Hormuz tetap terbuka, premi asuransi pengiriman bagi kapal tanker yang melintasi jalur itu masih sekitar 40% lebih tinggi dibanding sebelum peristiwa 2025. Biaya tambahan ini menegaskan risiko yang masih membayangi pengangkutan fisik hampir seperlima pasokan minyak dunia. Pernyataan keras baru atau insiden laut berskala kecil bisa memicu penilaian ulang cepat atas risiko ini.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code