Saham Asia bergerak bervariasi; Nikkei menguat seiring inflasi tetap di bawah target BoJ di tengah tekanan kenaikan harga minyak

    by VT Markets
    /
    Apr 24, 2026

    Saham Asia mayoritas turun pada Jumat, setelah harga minyak yang lebih tinggi menekan pasar di tengah mandeknya pembicaraan damai AS–Iran dan gangguan di Selat Hormuz. Saham Jepang bergerak beragam saat pelaku pasar mencermati data inflasi menjelang rapat Bank of Japan (BoJ) pekan depan.

    Harga energi tetap tinggi karena ketidakpastian pasokan, sehingga memicu kekhawatiran inflasi dan perlambatan pertumbuhan. Banyak ekonomi besar Asia sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, sehingga lebih rentan terhadap perkembangan terkait Iran.

    Snapshot Pasar Asia

    Pada saat penulisan, Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,2% ke sekitar 25.860, KOSPI Korea Selatan melemah 0,93% ke sekitar 6.410, dan Indeks Komposit SSE China turun 0,58% menuju 4.050. Nikkei 225 Jepang naik 0,61% ke sekitar 59.500.

    Inflasi tahunan Jepang naik menjadi 1,5% pada Maret dari 1,3% pada Februari, mendekati level terendah hampir empat tahun. Inflasi inti (core inflation, inflasi yang biasanya tidak memasukkan komponen yang harganya mudah bergejolak seperti energi dan pangan) naik menjadi 1,8% secara tahunan dari 1,6%, tetap di bawah target 2% BoJ untuk bulan kedua.

    Laporan menyebut militer AS mencegat dua kapal supertanker minyak Iran yang diduga mencoba menghindari blokade, sementara Teheran terus mengancam kapal-kapal di Selat Hormuz. Di Korea Selatan, saham teknologi melemah setelah penurunan Wall Street dan aksi ambil untung (profit-taking, menjual untuk mengunci keuntungan), sementara sejumlah saham terkait pertahanan naik, termasuk Hanwha Aerospace dan Doosan Enerbility.

    Ide Lindung Nilai Volatilitas

    Sentimen risk-off (sikap menghindari aset berisiko) menyebar cepat, menekan sebagian besar pasar Asia dan mendorong implied volatility (perkiraan volatilitas yang “dianggap” pasar dan tercermin dalam harga opsi) naik tajam. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, sering disebut “indeks ketakutan” yang mengukur perkiraan volatilitas S&P 500) pernah menembus 30 pada kuartal IV 2025. Karena itu, membeli call option VIX (opsi beli, memberi hak membeli pada harga tertentu) atau futures VIX (kontrak berjangka, perjanjian jual-beli pada harga dan waktu tertentu) dapat menjadi lindung nilai portofolio yang efisien terhadap guncangan pasar mendadak.

    Sementara sebagian besar Asia tertekan, saham Jepang menjadi pengecualian karena inflasi masih di bawah target Bank of Japan. BoJ memang menahan kebijakan hingga akhir 2025, lalu mengubah sikap pada awal 2026 ketika inflasi inti akhirnya bertahan di atas 2% selama tiga bulan berturut-turut. Ini membuka peluang pair trade (strategi memasangkan posisi beli dan jual pada dua aset untuk memanfaatkan perbedaan kinerja): membeli futures Nikkei 225 sambil menjual futures KOSPI untuk memanfaatkan perbedaan arah kebijakan.

    Rotasi ke saham pertahanan di Korea Selatan menjadi sinyal kecemasan pasar yang kemudian bertahan. Saham Hanwha Aerospace naik lebih dari 15% pada kuartal terakhir 2025, meski indeks KOSPI secara keseluruhan tertinggal. Bagi trader, memakai call option pada saham pertahanan tertentu bisa lebih tepat untuk mengambil peluang dari ketidakpastian kawasan dibandingkan melakukan short pada indeks luas (shorting, mengambil posisi untung saat harga turun).

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code