NZD/USD naik ke sekitar 0,5845 pada sesi Asia hari Kamis, lalu kembali turun mendekati level terendah dalam dua setengah minggu. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 0,5825, setelah turun dari area 0,5920-0,5925, sementara dolar AS tetap kuat.
Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) naik untuk hari ketiga dan mencapai level tertinggi sejak 13 April. Sentimen pasar tetap rapuh setelah pembicaraan damai AS-Iran terhenti.
Risiko Geopolitik dan Kuatnya Dolar
Presiden AS Donald Trump menolak usulan Iran untuk mengakhiri konflik dua bulan dan mengatakan tidak akan ada kesepakatan damai kecuali Iran menghentikan program nuklirnya. Ia juga menyatakan blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan terus berlanjut.
Gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz (jalur laut vital untuk pengiriman minyak global) membuat harga minyak mentah tetap tinggi. Hal ini menambah kekhawatiran inflasi (kenaikan harga yang menekan daya beli) dan mendukung ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat (suku bunga cenderung tetap tinggi atau naik).
Federal Reserve (bank sentral AS) menahan suku bunga acuannya di 3,50%-3,75%, sesuai perkiraan. Keputusan ini mencatat perbedaan pendapat terbanyak sejak 1992, dengan tiga pejabat memilih menolak nada kebijakan yang akomodatif (kebijakan yang cenderung mendukung pertumbuhan lewat suku bunga lebih rendah).
Pelaku pasar mengurangi perkiraan penurunan suku bunga lanjutan dan memasang peluang di atas 10% untuk kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Fokus kini beralih ke data ekonomi AS berikutnya sebagai penentu arah.
Pertimbangan Strategi Bearish NZD/USD
Tanggal hari ini adalah 2026-04-30T07:23:51.819Z.
Melihat NZD/USD yang melemah, strategi yang diuntungkan dari penurunan lanjutan patut dipertimbangkan. Jika menengok kondisi akhir 2025, kegagalan bertahan di atas level kunci 0,5850 mencerminkan sentimen bearish (pandangan pasar bahwa harga cenderung turun) yang kuat. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan) dapat bersiap menguji area support (zona harga yang sering menahan penurunan) lebih rendah, misalnya melalui opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) atau membuka posisi short pada kontrak berjangka/futures (posisi yang diuntungkan jika harga turun).
Pendorong utama pandangan ini adalah kuatnya dolar AS, ditopang Federal Reserve yang hawkish (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menekan inflasi). Pada periode tersebut, inflasi AS bertahan di sekitar 3,1% secara tahunan (year-over-year/yoy, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya), sehingga memperkuat sikap The Fed dan membuat pasar memasukkan peluang kenaikan suku bunga. Kondisi ini membuat USD lebih diminati, menekan mata uang komoditas seperti dolar Selandia Baru (Kiwi).
Di sisi lain, meski Reserve Bank of New Zealand/RBNZ (bank sentral Selandia Baru) menahan suku bunga kas pada level restriktif (cukup tinggi untuk menekan permintaan), dampaknya terbatas. Pola serupa terjadi pada akhir 2023, ketika suku bunga RBNZ 5,50% tidak banyak menahan NZD/USD dari penurunan saat penghindaran risiko global (risk aversion, investor memilih aset aman) dan penguatan dolar lebih dominan. Catatan 2023 ini menguatkan bahwa pada 2025, faktor global dinilai lebih kuat daripada kebijakan domestik.
Ketegangan geopolitik, terutama terkait Iran dan gangguan suplai minyak, menambah volatilitas pasar (naik-turunnya harga yang lebih tajam). Secara historis, kondisi seperti ini mendorong lonjakan indeks VIX (ukuran “ketakutan” pasar yang mencerminkan volatilitas yang diharapkan), yang pernah naik di atas 20 pada awal 2024 saat ketidakpastian meningkat. Lingkungan ini membuat strategi opsi menarik, karena volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) yang lebih tinggi biasanya membuat premi opsi (biaya opsi) lebih mahal dan bisa memberi peluang pada posisi yang searah.
Karena itu, fokus dapat diarahkan pada SMA 200 hari (simple moving average/rata-rata pergerakan sederhana 200 hari, indikator tren jangka menengah-panjang) di sekitar 0,5850 sebagai titik pivot (level acuan) penting untuk strategi bearish. Pergerakan yang bertahan di bawah level ini mengonfirmasi tren turun dan dapat menjadi sinyal untuk menambah posisi short. Data ketenagakerjaan dan inflasi AS berikutnya perlu dipantau ketat, karena kejutan data akan menjadi pemicu utama pergerakan besar berikutnya.