Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat naik 0,7% dibanding bulan sebelumnya (month on month) pada Maret. Angka ini sesuai perkiraan.
Data PCE Maret menegaskan inflasi masih sulit turun. Kenaikan 0,7% per bulan, meski sudah diperkirakan, memperkuat alasan bagi Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS) untuk tetap bersikap “hawkish” (kebijakan cenderung mengetatkan dengan suku bunga tinggi guna menekan inflasi). Artinya, kondisi suku bunga “lebih tinggi lebih lama” kemungkinan berlanjut hingga musim panas.
Persistensi Inflasi dan Keterbatasan The Fed
Situasi ini lebih membandel dibanding perkiraan sepanjang 2025, ketika banyak pihak memprediksi pemangkasan suku bunga tahun ini. Kini kita perlu bersiap pada kenyataan bahwa ruang gerak The Fed terbatas. Bank sentral tidak bisa mengambil risiko berbalik arah terlalu cepat (“premature pivot”, yaitu beralih dari pengetatan ke pelonggaran) saat inflasi inti (core inflation: inflasi yang mengecualikan komponen harga yang sangat bergejolak seperti pangan dan energi) masih berjalan di atas 5,5% secara tahunan (“annualized”, disetarakan menjadi laju setahun) pada kuartal I 2026.
Bagi pelaku pasar saham, ini mengarah pada sikap defensif dengan memakai opsi (options: kontrak derivatif yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) pada indeks besar. Membeli opsi jual (put options: hak untuk menjual pada harga tertentu; biasanya dipakai sebagai lindung nilai/hedging) di S&P 500 atau Nasdaq 100 dapat menjadi perlindungan dari tekanan valuasi akibat suku bunga yang bertahan tinggi. CME FedWatch Tool (alat berbasis pasar berjangka untuk membaca peluang keputusan suku bunga The Fed) kini menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga sebelum kuartal IV kurang dari 10%, berubah tajam dibanding tiga bulan lalu.
Tekanan juga kemungkinan berlanjut pada bagian “ujung panjang” kurva imbal hasil (yield curve: hubungan antara imbal hasil/yield obligasi dan tenor; ujung panjang mengacu pada tenor panjang seperti 10–30 tahun). Strategi derivatif yang diuntungkan saat yield obligasi naik, seperti membeli put pada ETF obligasi Treasury (Treasury bond ETFs: reksa dana berbentuk ETF yang mengikuti harga obligasi pemerintah AS; harga ETF biasanya turun saat yield naik), relevan untuk kondisi ini. Sebagai gambaran, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik hampir 75 basis poin (basis points/bps: 1 bps = 0,01%) sejak awal tahun, dan tren ini masih bisa berlanjut.
Kondisi ini menahan volatilitas pasar tetap tinggi, sehingga posisi yang diuntungkan saat volatilitas naik (long volatility: strategi yang untung ketika gejolak harga meningkat) menjadi menarik. Indeks VIX (ukuran ekspektasi volatilitas pasar saham AS, sering disebut “indeks ketakutan”) konsisten ditutup di atas 19, naik dibanding periode yang lebih tenang pada 2025. Perdagangan futures VIX (kontrak berjangka VIX) atau opsi beli (call options: hak untuk membeli pada harga tertentu) dapat menjadi cara untuk memanfaatkan potensi naik-turunnya harga yang biasanya menyertai rilis data inflasi dan pernyataan The Fed.