Ekonom DBS Chua Han Teng Memperkirakan Bank Sentral Thailand Menahan Suku Bunga di 1,00% hingga 2026 di Tengah Guncangan Stagflasi

    by VT Markets
    /
    May 1, 2026

    DBS Group Research memperkirakan Bank of Thailand (BoT/bank sentral Thailand) mempertahankan suku bunga kebijakan (policy rate, yaitu bunga acuan) di 1,00% hingga akhir 2026. Suku bunga ditahan di 1,00% setelah keputusan bulat pada rapat 29 April, mendekati level terendah dalam hampir empat tahun.

    Proyeksi ini didasarkan pada risiko pertumbuhan yang melemah dan inflasi yang lebih tinggi terkait guncangan pasokan (supply shock, yaitu gangguan pasokan barang/energi yang mendorong harga naik) akibat isu Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz (jalur pelayaran utama minyak). Kondisi ini disebut tekanan stagflasi (stagflation, yaitu pertumbuhan melambat saat inflasi naik).

    Inflasi, Pertumbuhan, dan Prospek Kebijakan

    DBS menaikkan proyeksi inflasi umum (headline inflation, yaitu inflasi total yang mencakup semua komponen) 2026 menjadi 2,5% dari 0,5%. DBS memperkirakan inflasi berada dalam kisaran target BoT 1–3% pada 2026 untuk pertama kalinya sejak 2023.

    DBS memproyeksikan pertumbuhan PDB (GDP, ukuran total output ekonomi) 2026 sebesar 1,6%. Angka ini dekat dengan proyeksi BoT 1,5%.

    Laporan tersebut menyebut BoT kemungkinan menahan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, kecuali pertumbuhan turun tajam atau tekanan inflasi meluas. Artikel ini dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

    Dengan ekspektasi BoT menahan suku bunga kebijakan 1,00% hingga sisa 2026, posisi spekulatif arah perubahan suku bunga dalam waktu dekat kemungkinan sulit menghasilkan untung. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari stabilitas ini, seperti menjual volatilitas (volatility, ukuran besar-kecilnya pergerakan harga) pada opsi suku bunga (interest rate options, kontrak derivatif yang memberi hak membeli/menjual berdasarkan pergerakan suku bunga). Masa jeda yang panjang ini didukung keputusan bulat pada rapat kebijakan 29 April.

    Implikasi Pasar untuk Suku Bunga, Valas, dan Saham

    Kombinasi pertumbuhan melambat dan harga naik menjadi tantangan. Data PDB kuartal I 2026 menunjukkan ekspansi 1,4% yang mengecewakan, sementara inflasi umum April naik ke 2,7% didorong biaya energi terkait ketegangan Timur Tengah. Lingkungan stagflasi ini membatasi pilihan bank sentral, sehingga penahanan suku bunga menjadi skenario paling mungkin.

    Tekanan ekonomi ini mengarah pada pelemahan baht Thailand. Ekonomi yang datar dan suku bunga rendah membuat mata uang kurang menarik untuk carry trade (strategi meminjam di mata uang berbunga rendah lalu membeli aset/mata uang berbunga lebih tinggi) dan investasi asing. Baht sudah melemah lebih dari 4% terhadap dolar AS sejak awal tahun, ke sekitar 37,50.

    Untuk pasar saham, kombinasi pertumbuhan lemah dan inflasi naik menjadi hambatan bagi laba emiten. Risiko penurunan terhadap Indeks SET meningkat karena perusahaan menghadapi kenaikan biaya bahan baku (input costs, biaya produksi) dan permintaan konsumen yang melemah. Pelaku derivatif dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put options, kontrak yang biasanya untung jika harga turun) pada indeks sebagai lindung nilai (hedge, perlindungan) terhadap potensi penurunan pasar.

    Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code