Output manufaktur Belanda meningkat, dengan Nevi Dutch Manufacturing PMI mencapai level tertinggi sejak 2022. Perusahaan menambah stok barang sebagai respons atas gangguan pasokan yang terkait Timur Tengah, termasuk berkurangnya pengiriman lewat Selat Hormuz.
Permintaan barang manufaktur Belanda naik dengan laju tercepat dalam hampir dua tahun. Permintaan dari luar negeri hanya naik tipis, dan kenaikan ini terutama terkait penimbunan stok di dalam negeri.
Output Naik dan Kebutuhan Modal Kerja
Permintaan domestik yang lebih tinggi, kenaikan harga, dan persediaan yang lebih besar mendorong produksi naik. Tren ini juga menaikkan kebutuhan modal kerja (dana untuk operasional harian seperti membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, dan membiayai persediaan) bagi produsen.
Ekspektasi bisnis terhadap produksi dalam 12 bulan ke depan hanya membaik sedikit. Sentimen tetap hati-hati karena risiko geopolitik dan ketidakpastian terkait kondisi energi hingga 2026.
Manufaktur Belanda dilaporkan tumbuh lebih cepat daripada manufaktur Jerman, antara lain berdasarkan data awal (flash, rilis cepat sebelum data final) indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI: survei bulanan yang mengukur aktivitas bisnis; angka di atas 50 berarti ekspansi, di bawah 50 berarti kontraksi) Jerman dari S&P Global. Artikel tersebut menyebut dibuat dengan bantuan alat AI dan ditinjau редактор.
Lonjakan terbaru PMI Manufaktur Belanda ke 54,8 menjadi sinyal bullish (indikasi pasar cenderung naik) kuat untuk jangka pendek, terutama karena perusahaan menimbun stok. Ini dilihat sebagai peluang jangka pendek untuk mencermati call option (opsi beli: kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, membeli aset pada harga tertentu) pada indeks AEX (indeks saham utama di bursa Belanda), yang sudah naik lebih dari 3% dalam sebulan terakhir. Momentum ini terkait langsung dengan dorongan membangun persediaan di tengah kekhawatiran rantai pasok (supply chain: jaringan pasokan dari bahan baku hingga distribusi) yang berlanjut.
Divergensi AEX vs DAX
Pada saat yang sama, terlihat perbedaan jelas dengan Jerman, yang PMI manufakturnya masih berada dalam kontraksi di 45,2. Indeks AEX mengungguli indeks saham Jerman DAX hampir 8% sejak awal tahun, dan tren ini diperkirakan berlanjut. Ini mendukung strategi pairs trade (strategi memasangkan dua posisi untuk memanfaatkan selisih kinerja) dengan posisi long (membeli/diuntungkan jika harga naik) saham industri Belanda sambil short (menjual dulu/diuntungkan jika harga turun) saham sejenis di Jerman.
Pendorong utama situasi ini, gangguan di Selat Hormuz, tetap menjadi sumber volatilitas (naik-turun harga yang tajam) terbesar. Disebutkan premi asuransi pelayaran sempat naik tiga kali lipat pada akhir 2025 setelah insiden laut awal, dan biaya ini masih diteruskan ke pelaku usaha. Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran hanya sedikit meredakan pasar pelayaran maupun energi, sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Namun, dorongan dari penimbunan stok ini bersifat sementara dan bukan karena lonjakan permintaan luar negeri yang benar-benar kuat. Sentimen bisnis masih lemah, sehingga penyelesaian mendadak di Timur Tengah bisa memicu penurunan tajam pesanan baru. Perlu mempertimbangkan lindung nilai (hedging: mengurangi risiko) atas posisi bullish dengan put option (opsi jual: hak menjual aset pada harga tertentu) pada AEX untuk kuartal ketiga.
Krisis energi yang dimulai pada 2025 masih membayangi pemulihan 2026. Kontrak berjangka (futures: perjanjian membeli/menjual di masa depan pada harga yang disepakati) minyak Brent sempat melonjak hingga hampir US$120 per barel musim dingin lalu, dan dengan ketegangan geopolitik yang masih tinggi, lonjakan lain tetap mungkin terjadi. Opsi pada kontrak berjangka minyak atau saham terkait energi menjadi cara langsung untuk mengambil posisi menghadapi ketidakpastian ini.