ICE Brent naik setelah konflik baru di Teluk Persia kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak. ING menyebut harga melonjak 5,8% dan ditutup di atas US$114 per barel.
Artikel itu menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran menunjukkan tanda-tanda melemah, setelah AS menyerang sejumlah kapal Iran. Artikel itu juga melaporkan Iran kembali menyerang infrastruktur di negara tetangga.
Risiko Pasokan Dorong Brent Naik
UEA mencegat beberapa rudal Iran, dan pelabuhan Fujairah terkena serangan drone (pesawat tanpa awak). Fujairah berada di luar Selat Hormuz, sehingga ekspor minyak UEA tetap berjalan dan bahkan meningkat meski perang dan pemblokiran Selat tersebut.
AS mulai mengawal kapal dagang melewati Selat Hormuz lewat “Project Freedom” (program pengawalan/pendampingan kapal). Dua kapal dagang berbendera AS telah melintasi selat itu dalam skema tersebut, menurut AS.
Artikel itu mencatat pernyataan Presiden Trump yang mengisyaratkan konflik bisa berlanjut dua hingga tiga minggu lagi. Disebut juga artikel dibuat dengan alat AI (kecerdasan buatan) dan ditinjau editor.
Kenaikan ini mencerminkan pola lama: pasar memasukkan “risiko pasokan” ke harga Brent, seperti saat ketegangan 2025. Ketegangan geopolitik saat ini mendorong kontrak berjangka Brent bulan terdekat (front-month futures, yaitu kontrak yang paling dekat jatuh tempo) naik di atas US$95 per barel, karena pasar sangat peka terhadap potensi gangguan. Situasi ini mirip lonjakan ke US$114 per barel ketika insiden angkatan laut AS-Iran terjadi sebelumnya.
Pendekatan Trading Saat Volatilitas Lebih Tinggi
Kondisi dasar pasar sudah ketat, sehingga lebih reaktif terhadap berita. Data EIA (lembaga energi AS) menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah yang tak terduga sebesar 3,1 juta barel (inventory drawdown, artinya stok turun), sehingga bantalan pasokan makin tipis jika ada gangguan. Serangan ke infrastruktur UEA pada 2025, khususnya pelabuhan Fujairah, menegaskan jalur ekspor tetap rentan meski berada di luar Selat Hormuz.
Bagi trader, lonjakan ketidakpastian ini mengarah pada pembelian perlindungan terhadap kenaikan harga lanjutan. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX, ukuran perkiraan naik-turun harga yang tersirat dari harga opsi) naik ke level tertinggi enam bulan di 42, menandakan premi opsi (biaya membeli opsi) naik cepat. Karena itu, posisi long langsung pada opsi call jangka dekat atas kontrak berjangka Brent (call option memberi hak membeli di harga tertentu) bisa efektif untuk menangkap kelanjutan kenaikan.
Strategi dengan risiko lebih terukur adalah bull call spread, yaitu membeli opsi call di satu strike price (harga patokan) dan menjual opsi call lain di strike yang lebih tinggi untuk menekan biaya awal, dengan imbal hasil maksimum dibatasi. Ini lebih hati-hati karena pernyataan diplomatik bisa cepat membalikkan sentimen. Hal seperti ini terlihat pada 2025 ketika komentar resmi soal konflik yang singkat memicu keraguan pasar dan membuat harga berayun tajam (whipsaw, artinya naik-turun cepat dan berlawanan arah).
Ke depan, pergerakan kapal melalui Selat Hormuz dan perubahan asuransi pengapalan perlu dipantau. Premi risiko perang untuk tanker di wilayah itu dilaporkan sudah dua kali lipat dalam sepekan terakhir. Ini indikator langsung dari persepsi risiko dan akan menjadi faktor penting penggerak harga minyak dalam beberapa minggu ke depan.