Indeks Dolar bergerak turun tipis menuju 98 seiring harapan kesepakatan AS-Iran meredakan kekhawatiran terhadap harga minyak, sementara data ketenagakerjaan membatasi pelemahan

    by VT Markets
    /
    May 7, 2026

    Indeks Dolar AS (DXY) melemah mendekati 98,00. Pelemahan terbatas setelah data ADP Employment Change (perkiraan perubahan pekerjaan versi lembaga swasta ADP, sering dipakai sebagai petunjuk awal pasar tenaga kerja) menunjukkan 109 ribu pekerjaan bertambah pada April, di atas perkiraan 99 ribu dan naik dari revisi Maret 61 ribu.

    Axios melaporkan AS dan Iran makin dekat ke kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Kabar ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan menurunkan kebutuhan aset “safe haven” (aset pelindung saat risiko pasar tinggi) seperti Dolar AS.

    Tekanan Dolar dan Selera Risiko

    EUR/USD diperdagangkan dekat 1,1750, namun kenaikan tertahan oleh data tenaga kerja AS yang solid. GBP/USD bertahan di sekitar 1,3600 dan sulit melanjutkan penguatan.

    USD/JPY bergerak dekat 156,40, memangkas pelemahan sebelumnya karena pasar menimbang turunnya permintaan safe haven versus data AS. Pelaku pasar juga menunggu arah kebijakan Bank of Japan.

    AUD/USD naik menuju 0,7240 seiring meningkatnya selera risiko terkait kabar AS-Iran. Minyak WTI turun ke sekitar US$94,90 per barel karena kekhawatiran pasokan mereda.

    Emas naik mendekati US$4.700, sementara posisi pasar bergeser ke aset yang lebih peka terhadap risiko. Data yang dijadwalkan Kamis, 7 Mei meliputi Neraca Perdagangan Australia, Pesanan Pabrik Jerman, Penjualan Ritel Zona Euro, serta data AS: Challenger Job Cuts (pengumuman rencana pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan), Initial Jobless Claims (klaim awal tunjangan pengangguran), Nonfarm Productivity Q1 Prel (produktivitas di luar sektor pertanian, rilis awal), dan Unit Labor Costs Q1 Prel (biaya tenaga kerja per unit output, rilis awal).

    Data Kunci dan Fokus Berikutnya

    Pada Jumat, 8 Mei, dijadwalkan data Produksi Industri Jerman, Neraca Perdagangan Zona Euro, serta data ketenagakerjaan Kanada.

    Melihat kembali pada periode yang sama tahun lalu, Mei 2025, pasar tertarik oleh dua faktor. Redanya ketegangan geopolitik dari potensi kesepakatan AS-Iran menekan Dolar AS, tetapi data pekerjaan AS yang kuat menahan penurunan lebih dalam. Ini menciptakan keseimbangan yang rapuh, dengan DXY bertahan di sekitar 98,00 saat mata uang berisiko seperti dolar Australia menguat.

    Pasar tenaga kerja yang kuat pada 2025 kemudian menjadi cerita utama sepanjang sisa tahun itu, membuat The Federal Reserve (bank sentral AS) mempertahankan kebijakan ketat. Ekonomi AS mencatat rata-rata penambahan lebih dari 150 ribu pekerjaan per bulan pada paruh kedua 2025, mendorong DXY naik lagi dan kini bergerak di sekitar 104,50. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka, nilainya mengikuti aset acuan) perlu waspada melawan tren penguatan dolar, karena selisih suku bunga antarnegara (perbedaan tingkat bunga yang memengaruhi arus modal) masih menguntungkan dolar AS.

    Penurunan harga minyak pada Mei 2025 hingga di bawah US$95 per barel terjadi karena harapan diplomasi tersebut. Walau kesepakatan terbatas sempat terjadi dan menahan kenaikan harga, disiplin produksi OPEC+ (kelompok OPEC dan sekutunya yang mengatur pasokan) menjadi penopang harga. Dengan WTI kini stabil sekitar US$85 per barel dan data EIA April 2026 (badan energi AS) menunjukkan kenaikan persediaan yang tak terduga, menjual opsi call (hak beli) di atas level US$90 bisa menjadi strategi.

    Lonjakan Dolar Australia menuju 0,7240 tahun lalu merupakan reaksi “risk-on” (minat pada aset berisiko saat sentimen positif), tetapi tidak bertahan lama. Penguatan Dolar AS dan kekhawatiran pertumbuhan global kembali menekan mata uang ini, yang kini lebih dekat ke 0,6550. Dengan Caixin Manufacturing PMI China April 2026 (indeks aktivitas manufaktur; di atas 50 ekspansi, di bawah 50 kontraksi) tercatat lemah di 50,1, pelaku pasar bisa mempertimbangkan opsi put (hak jual) pada AUD/USD untuk lindung nilai (hedging: mengurangi risiko) jika perlambatan berlanjut.

    Lonjakan emas mendekati US$4.700 tahun lalu mencerminkan puncak kekhawatiran inflasi, meski risiko geopolitik dinilai mereda. Saat kebijakan The Fed yang lebih ketat mulai terasa pada akhir 2025, daya tarik emas yang tidak memberi imbal hasil (aset tanpa bunga/kupon) turun tajam, membawa harga ke area US$3.550 seperti saat ini. Pembalikan tajam ini menegaskan emas sangat sensitif terhadap suku bunga riil (suku bunga setelah memperhitungkan inflasi), bukan hanya permintaan safe haven.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code