Philip Lane mengatakan di London pada Rabu bahwa dampak guncangan (shock) dari Iran kemungkinan lebih terbatas dibanding 2022, tetapi lebih kuat dan lebih cepat daripada rata-rata historis. Ia juga mengatakan guncangan energi saat ini terjadi dalam lingkungan yang kurang mendukung permintaan, berdasarkan indikator dari sisi perusahaan (misalnya survei dan laporan biaya/permintaan perusahaan) dan indikator berbasis berita (pengukuran yang menangkap nada dan intensitas pemberitaan ekonomi).
Ia mengatakan ekspektasi kenaikan harga jual yang lebih tinggi menunjukkan tekanan biaya input (biaya bahan baku/energi dan komponen produksi lainnya) akan diteruskan ke harga output (harga barang/jasa yang dijual perusahaan) dalam beberapa bulan ke depan. Ia menyinggung risiko “overshoot” (kenaikan inflasi melampaui target bank sentral) dan mengatakan besarnya serta lamanya overshoot akan menentukan respons kebijakan.
Lane mengatakan overshoot skala menengah tetapi tidak terlalu lama bisa memerlukan penyesuaian yang terukur (measured adjustment: perubahan suku bunga secara bertahap dan tidak agresif). Ia mengatakan jika overshoot lebih besar dan lebih persisten (bertahan lama), respons perlu lebih kuat (kenaikan suku bunga lebih besar) atau lebih lama (periode kebijakan ketat lebih panjang).
Ia mengatakan jalur “demand destruction” (permintaan melemah karena harga tinggi menekan konsumsi dan produksi) akan membatasi penyesuaian yang dibutuhkan dalam sikap kebijakan moneter (monetary stance: seberapa ketat/longgar kebijakan suku bunga dan likuiditas), sementara ekspansi fiskal (fiscal expansion: kenaikan belanja pemerintah atau pemotongan pajak) bergerak berlawanan arah karena dapat menopang permintaan. Ia juga mengatakan respons optimal bisa lebih kecil untuk gangguan pasokan yang eksogen (exogenous supply disruption: gangguan pasokan dari faktor luar, seperti geopolitik) dibanding guncangan permintaan (demand shock: perubahan tajam permintaan karena konsumsi/investasi).