Pool Corporation (POOL) disebut masih berada dalam pola **Elliott Wave** (metode analisis teknikal yang membagi pergerakan harga ke dalam gelombang tren dan gelombang koreksi) yang lebih besar dan **bullish** (tren naik) meski turun dari puncak 2021. Sebelumnya, saham ini naik dari titik terendah 2009 ke gelombang (I), yakni kenaikan **impulsif** (kenaikan kuat yang searah tren utama dan biasanya terbentuk dalam lima gelombang kecil).
Setelah gelombang (I), saham masuk ke gelombang (II), fase **koreksi** (penurunan atau pergerakan berlawanan arah tren utama) yang disebut kompleks dan masih berlangsung. Strukturnya dinilai belum selesai, dan pola mengarah pada satu penurunan lagi sebelum gelombang (II) berakhir.
Analisis menempatkan area **support** (zona penopang harga yang sering memicu pantulan) untuk gelombang (II) di sekitar 123, berdasarkan proyeksi **Fibonacci** (alat ukur berbasis rasio matematis yang sering dipakai untuk memperkirakan target/level koreksi). Penurunan juga disebut bisa berakhir sebagai rangkaian **lima gelombang** yang lebih besar (pola penurunan bertahap dalam beberapa dorongan).
Dalam jangka dekat, saham diperkirakan tetap volatil (pergerakan naik-turun tajam) dengan peluang penurunan lanjutan. Setelah gelombang (II) berakhir di sekitar area proyeksi tersebut, tahap berikutnya adalah gelombang (III), yang biasanya merupakan fase kenaikan kuat.
Pandangan bullish jangka panjang dinilai tetap berlaku jika harga bertahan di atas level **invalidation** (batas pembatalan skenario) di sekitar 8,76.
Kami menilai Pool Corporation masih berada dalam fase koreksi besar setelah reli kuatnya berakhir pada 2021. Penurunan panjang ini dipandang sebagai pullback gelombang (II) di dalam struktur bullish yang lebih besar. Koreksinya kompleks dan polanya mengindikasikan belum tuntas.
Prospek terdekat mengarah pada satu penurunan lagi sebelum terbentuk dasar yang lebih stabil. Data ekonomi April 2026 mendukung pandangan ini: penjualan rumah yang sudah ada turun 3,5% dan sentimen konsumen melemah ke 68,2, mengindikasikan kehati-hatian belanja non-pokok. Kelemahan ini sejalan dengan ekspektasi teknikal bahwa saham masih berpotensi turun.
Dengan kondisi tersebut, trader dapat mempertimbangkan posisi **bearish** (mengincar penurunan) dalam beberapa pekan ke depan untuk memanfaatkan fase penurunan terakhir. Membeli **opsi put** (kontrak yang naik nilainya saat harga saham turun) dengan jatuh tempo dekat atau membangun **bear call spread** (strategi opsi yang umumnya untung jika harga tidak naik, memakai kombinasi jual-beli opsi call) bisa menjadi pilihan. Target penurunan berada di area 123, yang dinilai sebagai support teknikal penting.
Namun, penurunan ini bukan sinyal jangka panjang untuk meninggalkan saham. Ini dipandang sebagai tahap akhir peluang akumulasi sebelum siklus bullish berikutnya, gelombang (III), dimulai. Saat harga mendekati target 123, bias dapat disiapkan bergeser dari bearish ke bullish.
Setelah muncul tanda-tanda dasar harga di dekat zona support tersebut, strategi dapat berganti ke membangun posisi naik. Membeli **opsi call** (kontrak yang naik nilainya saat harga saham naik) dengan jatuh tempo lebih panjang atau menjual **bull put spread** (strategi opsi yang umumnya untung jika harga bertahan di atas level tertentu, memakai kombinasi jual-beli opsi put) dapat digunakan untuk memposisikan diri menuju gelombang (III). Gelombang ketiga ini sering menjadi fase terkuat dan paling berkelanjutan dalam siklus bull market.