Produksi aluminium di China naik melampaui batas produksi resmi pada kuartal I, didorong harga tinggi dan pasokan alumina yang melimpah. Alumina adalah bahan baku utama untuk membuat aluminium. Data produksi diperkirakan keluar paling cepat pada Senin.
Kenaikan produksi kemungkinan berlanjut pada April, terlihat dari ekspor aluminium China yang lebih tinggi. Pasokan dari kawasan Teluk (Gulf) dilaporkan kesulitan masuk ke pasar, yang bisa membatasi dampak tambahan produksi China terhadap harga.
Fokus pasar juga bergeser ke level persediaan karena permintaan tetap kuat, termasuk dari industri China. Produksi China yang lebih tinggi bisa meredakan sebagian kekurangan, tetapi selisih antara pasokan dan permintaan kemungkinan masih ada.
Seorang pedagang komoditas berbasis Swiss memperkirakan defisit pasokan 2 juta ton tahun ini. Defisit pasokan berarti pasokan lebih kecil dibanding permintaan. Perusahaan itu juga memperingatkan persediaan bisa turun ke level “sangat tipis” pada akhir tahun.
Jika ini terjadi, hambatan pasokan bisa muncul. Hambatan pasokan adalah titik macet di rantai pasok—misalnya pengiriman atau kapasitas pelabuhan—yang membuat barang tidak cepat sampai ke pembeli. Kondisi ini dapat memicu volatilitas harga yang besar (harga naik-turun tajam).
Pandangan ini didukung data persediaan terbaru: stok aluminium terdaftar di LME (London Metal Exchange, bursa logam global) turun di bawah 400.000 ton, level terendah sejak akhir 2023. Penurunan persediaan di bursa yang berkelanjutan ini menegaskan pasar makin ketat meski ekspor China meningkat. Masalah logistik yang terus mengganggu pasokan dari kawasan Teluk menjadi faktor penting di balik pengetatan ini.
Dengan prospek beberapa pekan ke depan, kami memperkirakan pergerakan harga yang besar dengan kecenderungan naik. Pedagang dapat mempertimbangkan opsi beli (call option), yaitu kontrak yang memberi hak membeli di harga tertentu, tetapi bukan kewajiban, untuk menangkap potensi lonjakan harga menjelang akhir tahun. Struktur pasar menunjukkan volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan gejolak harga yang tercermin dalam harga opsi) bisa terlalu rendah dibanding risiko hambatan pasokan yang nyata.
Dari sisi permintaan, kondisinya tetap solid, sehingga tambahan pasokan dari China mudah diserap. Ini terlihat pada Caixin Manufacturing PMI China April yang melampaui perkiraan di 51,4. PMI (Purchasing Managers’ Index/Indeks Manajer Pembelian) di atas 50 menandakan aktivitas pabrik masih ekspansif. Kekuatan ini membuat pasar sulit kembali seimbang.