Yen menutup perdagangan Rabu sedikit lebih kuat, dengan USD/JPY diperdagangkan di atas 159,00 pada jam London dan awal perdagangan AS sebelum turun ke area 158,50. Setelah itu, pasangan ini stabil sedikit di bawah 159,00 saat penutupan, terutama karena pelemahan luas dolar AS. Pelemahan dolar ini terkait meredanya ketegangan Timur Tengah, turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta pergerakan pasar yang kembali “risk-on” (minat pada aset berisiko meningkat).
Pendorong dari Jepang sendiri terbatas, dan selisih suku bunga masih lebar karena Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) belum menunjukkan urgensi untuk memperketat kebijakan. Data perdagangan menunjukkan neraca kembali defisit dan pesanan mesin turun, menandakan momentum ekonomi domestik lemah.
Level Teknikal Dan Tren
Secara teknikal, USD/JPY masih berada di atas exponential moving average (EMA/rata-rata pergerakan eksponensial, yaitu indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) 50 hari dan 200 hari di dekat 158,00 dan 155,50 pada grafik harian. Ini menjaga peluang kenaikan ke arah 160,00, dengan puncak terbaru sedikit di atas 160,50.
Laporan inflasi nasional Jepang untuk April akan dirilis saat pembukaan Tokyo pada Jumat, dengan konsensus memperkirakan inflasi inti (core inflation/inflasi yang mengecualikan makanan segar agar lebih mencerminkan tren harga) sedikit melambat. Angka yang lebih lemah akan mendukung sikap BoJ untuk tetap stabil, sedangkan angka yang lebih kuat bisa menambah tekanan agar kebijakan disesuaikan, sementara survei bisnis kilat (flash business surveys/indikator awal aktivitas bisnis bulan berjalan) pada Kamis dinilai prioritas lebih rendah.
Bias masih cenderung naik selama bertahan di atas 158,00, dengan 159,00 sebagai titik poros (pivot/acuan level jangka pendek). Penembusan di bawah 158,00 mengindikasikan tren mulai kehilangan tenaga, sementara kembali di atas 159,00 dapat mengarahkan fokus ke 160,00 dan potensi respons otoritas.
Perdagangan Dan Risiko Intervensi
Isu utama tetap selisih suku bunga yang sangat besar antara AS dan Jepang, yang masih hampir 400 basis poin (basis point/bps, satuan perubahan suku bunga; 100 bps = 1%). Suku bunga kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS) bertahan di 4,0%, sementara BoJ baru menaikkan tipis ke 0,25% dan belum menunjukkan dorongan untuk mengetatkan lagi. Perbedaan ini membuat memegang yen kurang menarik dan terus mendorong carry trade (strategi meminjam mata uang bersuku bunga rendah untuk membeli aset/mata uang bersuku bunga lebih tinggi) melawan yen.
Ekonomi domestik Jepang juga belum memberi alasan kuat untuk perubahan kebijakan, sehingga sikap hati-hati BoJ dinilai wajar. Pertumbuhan PDB 2025 hanya sekitar 0,5%. Sampai ada pemulihan berkelanjutan pada permintaan domestik dan inflasi, BoJ kemungkinan menjaga suku bunga sangat rendah.
Level kunci yang terus dipantau adalah 160,00 pada USD/JPY, yang menjadi batas penting bagi pejabat. Pasar mengingat intervensi bernilai triliunan yen pada 2024 ketika pasangan ini melampaui level tersebut. Saat mendekati level itu lagi, risiko peringatan lisan dan aksi dari Kementerian Keuangan meningkat.
Bagi pelaku derivatif (instrumen turunan seperti opsi), membeli call secara langsung (opsi beli yang untung jika harga naik) pada USD/JPY di atas 160 adalah taruhan berisiko karena harus “mengalahkan” potensi intervensi pemerintah. Strategi yang dinilai lebih baik adalah call spread (strategi opsi: membeli call di strike lebih rendah dan menjual call di strike lebih tinggi untuk membatasi risiko), misalnya membeli call 159,00 dan menjual call 160,50, agar bisa mendapat manfaat dari kenaikan bertahap sambil membatasi risiko. Menjual put out-of-the-money (opsi jual dengan strike di bawah harga pasar saat ini) di bawah moving average 50 hari dekat 158,00 juga bisa dipakai untuk mengumpulkan premi (premium/biaya opsi), selama tren naik bertahan.
Gambaran teknikal mendukung kelanjutan kenaikan selama pasangan ini bertahan di atas “lantai” 158,00. Momentum mungkin melambat sehingga kenaikan bisa tidak mulus, namun arah yang lebih mudah masih ke atas. Pertanyaan utamanya bukan apakah 160 akan diuji, melainkan bagaimana respons otoritas saat itu terjadi.