Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan Teheran sedang bernegosiasi untuk mengakhiri perang dan saat ini tidak membahas isu nuklir, sambil menegaskan pengelolaan Selat Hormuz merupakan kewenangan negara-negara pesisir. Seorang diplomat senior Iran, dikutip ISNA, mengatakan berkas nuklir dan cadangan uranium yang diperkaya sangat tinggi (uranium dengan kadar pengayaan jauh di atas level untuk pembangkit listrik, sehingga lebih sensitif secara keamanan) akan dibahas dengan Amerika Serikat dalam perundingan 60 hari sebagai imbalan pelonggaran sanksi dan pencairan aset. Ia menambahkan isu Hormuz ditangani secara bilateral dengan Oman (dua pihak). Pernyataan ini berbeda dengan unggahan akhir pekan Presiden AS Donald Trump di Truth Social yang menyebut kesepakatan sebagian besar sudah dirundingkan dan Selat Hormuz akan dibuka setelah rincian akhir disepakati.
Kementerian itu mengatakan tidak ada rencana saat ini untuk mengirim delegasi ke Pakistan, dan kemajuan pada topik yang dibahas tidak berarti kesepakatan mendekati penandatanganan. Disebutkan pula setiap kesepakatan potensial akan mencakup penghentian perang di semua front, termasuk Lebanon, dan Iran tidak akan menarik pungutan di Hormuz, sembari menegaskan layanan berbayar tidak semestinya disebut pungutan. Setelah komentar tersebut, WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak mentah AS) memantul ke sekitar US$91,60 dari posisi terendah harian US$89,52, sementara Indeks Dolar AS (ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) pulih ke sekitar 99,10 setelah stabil di dekat 99,0.
Volatilitas Pasar dan Peluang pada Derivatif Energi
Kami melihat sinyal yang saling bertolak belakang dari Iran dan AS mengenai kesepakatan potensial, yang memicu volatilitas jangka pendek (naik-turun harga yang tajam dalam waktu dekat). Lonjakan WTI ke dekat US$91,60 dan pemulihan Indeks Dolar AS menunjukkan pasar sangat peka terhadap ketegangan geopolitik ini. Ketidakpastian ini membuka peluang bagi pelaku yang memperdagangkan derivatif energi dan mata uang (instrumen turunan seperti kontrak berjangka dan opsi yang nilainya mengikuti aset acuan).
Dengan situasi yang belum jelas, kami menilai pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi membeli volatilitas pada minyak WTI, yakni strategi yang diuntungkan bila pergerakan harga membesar, bukan menebak arah. CBOE Crude Oil Volatility Index/OVX (indeks perkiraan volatilitas minyak berdasarkan harga opsi) sudah naik, dan volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi call Juli dan Agustus 2026 diperdagangkan jauh di atas rata-rata 50 hari. Strategi long straddle atau strangle (membeli opsi beli/call dan opsi jual/put sekaligus, agar berpotensi untung jika harga bergerak besar ke atas atau ke bawah) bisa efektif untuk memanfaatkan pergerakan besar di salah satu arah.
Dampak pada Selat Hormuz dan Pasar Mata Uang
Fokus utama tetap Selat Hormuz, titik sempit strategis (chokepoint, jalur sempit yang jika terganggu dapat menghambat arus perdagangan) bagi pasokan energi global. EIA (U.S. Energy Information Administration, lembaga statistik energi pemerintah AS) secara konsisten melaporkan lebih dari 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20% konsumsi global, melewati selat itu. Setiap persepsi ancaman terhadap arus ini, termasuk Iran mengenakan biaya untuk “layanan”, akan segera menambah premi risiko (tambahan harga karena risiko gangguan pasokan) pada harga minyak.
Penguatan dolar AS merupakan respons klasik flight to safety (perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman saat risiko meningkat). Secara historis, ketika ketegangan Timur Tengah memanas, modal mengalir ke aset AS sehingga mendukung dolar. Kami memperkirakan Dollar Index/DXY (indeks dolar) tetap diminati selama negosiasi belum pasti, sehingga ada peluang pada opsi valas/FX options (opsi untuk nilai tukar) untuk lindung nilai atau berspekulasi atas penguatan dolar.
Penyebutan tenggat perundingan 60 hari memberi kerangka waktu yang jelas. Kami mengambil posisi menggunakan kontrak opsi yang jatuh tempo akhir Agustus dan September 2026 untuk menangkap potensi hasil perundingan. Jika pembicaraan gagal, harga minyak bisa melonjak, sedangkan kesepakatan menyeluruh dapat mendorong harga turun kembali mendekati level terendah terbaru.