Imbal hasil AS yang lebih tinggi dan Brent US$105 membebani rupiah, peso, dan rupee di tengah risiko Hormuz

    by VT Markets
    /
    May 25, 2026

    Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun yang lebih tinggi dan harga minyak Brent yang masih mahal menekan rupiah Indonesia (IDR), peso Filipina (PHP), dan rupee India (INR). Pemulihan yang bertahan lama biasanya bergantung pada turunnya risiko geopolitik. Salah satu pemicu yang mungkin adalah kesepakatan AS–Iran yang menjamin kelancaran jalur pelayaran melalui Selat Hormuz (jalur utama pengiriman minyak dunia), sehingga menurunkan risiko di pasar energi dan mengurangi dorongan penguatan dolar AS.

    Di Indonesia, USD/IDR masih cenderung naik karena tekanan fiskal (kondisi anggaran) dan tekanan transaksi berjalan (selisih ekspor-impor dan arus pendapatan luar negeri) menambah kerentanan mata uang, meski posisi pasar yang sudah terlalu “penuh” bisa membuka ruang koreksi. Rupiah terlihat murah berdasarkan REER (nilai tukar efektif riil, yaitu nilai rupiah terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang setelah memperhitungkan inflasi). Sementara itu, instrumen SRBI berimbal hasil tinggi (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, surat berharga BI) memberi kompensasi atas premi risiko (tambahan imbal hasil yang diminta investor karena risiko). Di Filipina, peso rentan saat inflasi naik dan suku bunga kebijakan BSP di 4,50%, sehingga bantalan terhadap premi risiko terbatas. Di India, USD/INR bisa bergerak menuju 100,00 jika konflik Iran berlanjut dan minyak bertahan di atas US$100 per barel, walau intervensi RBI (aksi bank sentral di pasar valas) dan potensi kenaikan suku bunga dapat sesekali menahan pelemahan.

    Pendorong Tekanan Terkini pada Mata Uang Asia

    Kami melihat tekanan pada mata uang Asia seperti IDR, PHP, dan INR masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Yield US Treasury 2 tahun yang bertahan di 5,1% dan Brent yang diperdagangkan di US$105 per barel menciptakan kondisi sulit bagi negara pengimpor minyak ini. Penguatan dolar AS yang berlanjut, dengan indeks DXY (indeks nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) di sekitar 107,50, menjadi tren utama yang kami perhatikan.

    Peso Filipina terlihat paling rentan. Data inflasi terbaru April 2026 naik ke 5,2%, sementara suku bunga kebijakan bank sentral hanya 4,50%. Ini berarti suku bunga riil negatif (suku bunga setelah dikurangi inflasi), sehingga kurang menarik bagi investor. Kami menyarankan penggunaan NDF (non-deliverable forward, kontrak forward valas tanpa penyerahan fisik mata uang; diselesaikan dengan selisih nilai) untuk memanfaatkan potensi kenaikan USD/PHP dari level 59,20 saat ini.

    Untuk rupee India, tren kenaikan USD/INR masih berlanjut, kini sekitar 85,50. Karena India mengimpor lebih dari 85% kebutuhan minyaknya, harga yang bertahan di atas US$100 per barel dapat mendorong pasangan ini menuju 87,00. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call USD/INR yang out-of-the-money (opsi beli dengan harga strike di atas harga pasar saat ini; lebih murah namun butuh pergerakan besar) dengan jatuh tempo tiga bulan untuk menangkap potensi kenaikan tersebut.

    Untuk rupiah Indonesia, kami lebih berhati-hati karena USD/IDR terlihat jenuh beli (overbought; kenaikan sudah terlalu cepat sehingga rawan koreksi) di sekitar 16.550 pada grafik teknikal. Sentimen lemah masih ada, namun rupiah tampak murah berdasarkan REER, dan SRBI berimbal hasil tinggi memberi penopang. Kami menyarankan straddle (strategi opsi: membeli call dan put sekaligus pada strike dan jatuh tempo yang sama untuk mengambil peluang pergerakan besar ke dua arah) untuk mengantisipasi pergerakan besar, sekaligus lindung nilai terhadap pembalikan tajam bila ada berita positif.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code