Rupee India dibuka lebih kuat seiring USD/INR memperpanjang penurunan empat sesi ke sekitar 95,20, terendah dalam hampir dua pekan. Dukungan datang dari ekspektasi aksi lanjutan Reserve Bank of India (RBI/bank sentral India) di pasar valuta asing (pasar tukar mata uang), ditambah penurunan awal harga minyak mentah karena prospek membaiknya kesepakatan AS-Iran, meski minyak kemudian memantul setelah Iran menyatakan Selat Hormuz adalah urusan negara-negara pesisir. Cadangan devisa RBI disebut mendekati US$700 miliar, sementara posisi pasar juga dipengaruhi investor institusi asing (FII, investor besar asing) yang kembali menjadi penjual bersih untuk sesi keempat, dengan arus keluar total Rp10.386,52 crore (1 crore = 10 juta; sekitar Rp103,8652 miliar dalam satuan “crore”).
Volatilitas minyak tetap menjadi penggerak utama: WTI (patokan harga minyak AS) pulih ke sekitar US$91,60 setelah sempat turun lebih dari 6% ke kisaran US$89,50. US Dollar Index (indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,3% ke sekitar 99,00, dan penetapan harga CME FedWatch (alat yang membaca peluang langkah suku bunga The Fed dari harga kontrak berjangka) menunjukkan peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed tahun ini sekitar 57%, dibanding 67% pada Jumat. Secara teknikal, USD/INR berada dekat EMA 20 hari (rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada data terbaru) di 95,3719, dengan RSI (Relative Strength Index, indikator momentum untuk melihat jenuh beli/jenuh jual) sekitar 53; penembusan di bawah 95,00 bisa membuka 94,00, sementara kenaikan di atas 96,37 dapat menguji kembali 97,00.
Aksi RBI dan Strategi Pasar
RBI memberi sinyal jelas ingin menahan pelemahan rupee yang berlebihan, sehingga menjadi pembatas kenaikan pasangan USD/INR. Dengan cadangan devisa yang dilaporkan sekitar US$698 miliar, RBI punya ruang besar untuk intervensi (aksi jual/beli valas oleh bank sentral untuk memengaruhi kurs) melawan pergerakan spekulatif. Ini membuat strategi menjual peluang kenaikan (menjual opsi yang diuntungkan jika USD/INR naik) menarik dalam jangka dekat, karena kenaikan bertahan di atas 97,00 dinilai kecil.
Harga Minyak, Arus Keluar FII, dan Kisaran Perdagangan
Kewaspadaan tetap diperlukan karena situasi minyak yang mudah bergejolak, seiring optimisme awal soal kesepakatan AS-Iran memudar. India mengimpor lebih dari 85% kebutuhan minyak mentahnya, dan saat harga pulih di atas US$91 per barel, ini menekan defisit transaksi berjalan (selisih negatif arus masuk-keluar transaksi barang/jasa, pendapatan, dan transfer). Ketidakpastian baru di pasar energi mengindikasikan penguatan rupee yang jauh di bawah 95,00 akan sulit bertahan.
Arus keluar investor asing juga menjadi hambatan besar, dengan lebih dari Rp10.300 crore ditarik dari saham hanya dalam empat hari. Berdasarkan data kustodian (depository, lembaga penyimpan dan pencatat kepemilikan efek), penjualan FII bulan ini menuju level tertinggi sejak Oktober 2025, mencerminkan kekhawatiran terhadap laba perusahaan. Selama tekanan jual ini berlanjut, hal tersebut menjadi penahan penguatan rupee dan membatasi penurunan USD/INR.
Dengan sinyal yang saling bertolak belakang, pendekatan yang dinilai terbaik adalah bersiap untuk pasar bergerak dalam kisaran (range-bound, harga bolak-balik di rentang tertentu) dengan volatilitas tinggi. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin dari harga opsi) untuk opsi USD/INR tenor satu bulan naik ke 5,8%, sehingga strategi menjual strangle (menjual opsi call dan put sekaligus di harga kesepakatan berbeda untuk meraih premi) dengan strike (harga kesepakatan) sekitar 94,50 dan 96,50 bisa dipertimbangkan untuk memanfaatkan peluruhan waktu (time decay, nilai opsi menyusut mendekati jatuh tempo). Fokus utama adalah menjual call spread (strategi opsi: menjual call dan membeli call lain di strike lebih tinggi untuk membatasi risiko) di atas 96,50, karena sikap RBI membuat lonjakan tajam kurang mungkin.