Rabobank Peringatkan Gangguan Berkepanjangan di Selat Hormuz, Harga Minyak dan Gas Diproyeksi Naik di Tengah Risiko Eskalasi

    by VT Markets
    /
    May 26, 2026

    Rabobank menetapkan skenario dasar bahwa Selat Hormuz tidak kembali beroperasi normal hingga tiga bulan, menimbulkan kerusakan dari sisi pasokan dan membatasi porsi besar arus minyak dan gas global. Bank itu juga menyoroti risiko perang lanjutan, keterlambatan pembukaan jalur, serta kemungkinan keterlibatan pihak luar, yang bersama-sama mengarah pada krisis energi dan kebutuhan merevisi proyeksi makro serta komoditas.

    Skema “oil-for-oil” (barang dibayar dengan barang: pertukaran minyak sebagai pembayaran) akan memberi Iran devisa (FX, valuta asing—cadangan mata uang asing untuk membayar impor/utang), tetapi juga mengurangi daya tawarnya setelah 1.550 kapal yang tertahan di belakang Hormuz bisa berlayar, sehingga memicu lonjakan pasokan energi satu kali. Dari sisi operasional, pembersihan ranjau (demining, kegiatan mencari dan menyingkirkan ranjau laut agar jalur pelayaran aman) bisa lebih lama dari 30 hari; beberapa perkiraan menyebut enam minggu, yang berarti pembukaan kembali pada pertengahan Juli bahkan dalam asumsi paling baik. Jalur kedua melibatkan sekutu AS membantu membuka kembali selat, berpotensi mempercepat waktu tetapi meningkatkan risiko pembalasan dan konflik yang lebih luas; pada 19 Mei, anggota NATO dilaporkan mempertimbangkan peran jika selat tetap tertutup hingga Juli.

    Prospek Pasar Dan Risiko Keamanan Energi

    Kami menilai skenario dasar terbaru adalah Selat Hormuz tidak kembali normal hingga tiga bulan, sehingga menciptakan guncangan pasokan energi yang berkepanjangan. Prospek ini membuat kami memperkirakan pasar akan segera menaikkan “harga risiko” (repricing of risk, penyesuaian harga karena risiko dianggap lebih tinggi) di pasar energi dalam beberapa pekan ke depan. Respons utama adalah bersiap menghadapi periode harga minyak dan gas yang lebih tinggi dan bertahan lama.

    Potensi penutupan ini krusial karena selat tersebut adalah titik sempit (chokepoint, jalur sempit yang bila terganggu menghambat arus besar perdagangan) bagi hampir 20% konsumsi minyak global, dengan U.S. Energy Information Administration melaporkan lebih dari 21 juta barel cairan minyak (petroleum liquids, gabungan minyak mentah dan produk/cairan minyak terkait) melintas setiap hari pada 2023. Gangguan sebesar ini tidak punya solusi cepat, karena kapasitas produksi cadangan global (spare production capacity, produksi tambahan yang bisa dinyalakan cepat) tidak cukup untuk menutup kekurangan besar yang terjadi mendadak. Kami melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan energi global.

    Penempatan Strategis Dan Pelajaran Sejarah

    Karena itu, kami melihat peluang untuk membangun posisi beli (long positions, bertaruh harga akan naik) pada kontrak berjangka (futures, kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan dengan harga yang disepakati) minyak mentah, khususnya kontrak Agustus dan September untuk Brent dan WTI. Membeli opsi call (call options, hak untuk membeli pada harga tertentu; dipakai untuk mendapat untung saat harga naik dengan risiko terbatas) juga merupakan strategi yang masuk akal untuk menangkap potensi kenaikan sambil membatasi risiko. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX, ukuran perkiraan naik-turunnya harga minyak berbasis harga opsi) yang bertahan di kisaran pertengahan 30-an kemungkinan melonjak, artinya premi opsi (biaya membeli opsi) akan segera naik tajam.

    Secara historis, gangguan geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga besar, misalnya saat harga minyak menjadi dua kali lipat setelah invasi Kuwait pada 1990. Preseden itu menunjukkan harga pasar saat ini masih meremehkan potensi lonjakan cepat menuju US$150 per barel jika selat tetap tidak bisa dilalui. Penutupan tiga bulan akan menjadi krisis yang jauh lebih berat dibanding banyak kejadian jangka pendek sebelumnya.

    Rentang waktu penyelesaian tampak sangat tidak pasti, sehingga taruhan penurunan harga jangka pendek (bearish bets, posisi yang untung jika harga turun) menjadi sangat berisiko. Operasi pembersihan ranjau bisa molor setidaknya hingga pertengahan Juli, dan potensi keterlibatan anggota NATO menambah risiko eskalasi militer. Dinamika ini menyiratkan setiap pelemahan harga energi sebaiknya dilihat sebagai peluang beli.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code