USD/JPY bangkit dari support SMA 50 hari (rata-rata bergerak sederhana 50 hari, yaitu rata-rata harga penutupan 50 hari terakhir untuk membaca tren) dan kembali naik di atas 159,00 pada Selasa, menguat lebih dari 0,25% saat bergerak menuju 159,50. Pasangan ini diperdagangkan di 159,38 saat penulisan, dengan pergerakan harga mengarah ke konsolidasi (bergerak naik-turun dalam rentang) lebih lanjut di kisaran 159,00–160,00 setelah pantulan dari 158,79 mendorongnya menembus 159,00.
Momentum tetap positif, dengan RSI (Relative Strength Index, indikator untuk mengukur kekuatan naik/turun; angka 50 biasanya dianggap netral) bertahan di atas 50. Namun kelanjutan kenaikan tertahan oleh kekhawatiran potensi aksi Jepang di pasar valas. Jika pasangan ini turun lagi di bawah 159,00, fokus beralih ke SMA 50 hari di 158,78 lalu SMA 100 hari (rata-rata 100 hari untuk tren jangka lebih menengah) di 157,62, dengan terendah 6 Mei di 155,04 berada lebih jauh di bawahnya.
Risiko Intervensi dan Batas Kenaikan
Kami melihat pergerakan USD/JPY di atas 159,00 sebagai ujian penting, dengan momentum bullish (tren naik) berhadapan dengan ancaman nyata intervensi resmi (aksi pemerintah/otoritas untuk memengaruhi nilai tukar). Kondisi ini membuat posisi satu arah (hanya bertaruh naik atau turun) semakin berisiko. Pasar jelas mencoba menantang level 160,00, yang menjadi batas psikologis dan penting secara historis.
Kami mengacu pada akhir April dan awal Mei 2024, ketika otoritas Jepang menghabiskan sekitar ¥9,8 triliun untuk menahan yen setelah kurs menembus 160. Intervensi itu memicu penurunan cepat lebih dari lima figure (turun lebih dari 0,05 pada kurs), mengingatkan bahwa arah pasar bisa berbalik sangat cepat. Melihat pergerakan sekarang, kami menilai pejabat berada dalam siaga tinggi, sehingga kenaikan lanjutan menjadi rawan.
Strategi Opsi dan Pendekatan Volatilitas
Untuk trader yang ingin memanfaatkan momentum naik, kami cenderung memilih membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) berjangka pendek dengan strike (harga pelaksanaan) di sekitar 159,50 dan 160,00. Strategi ini memberi peluang ikut menikmati reli lanjutan, sambil membatasi risiko maksimum pada premi (biaya) yang dibayar. Ini lebih hati-hati dibanding memegang posisi spot berleverage (posisi tunai dengan pinjaman/ekuitas kecil) yang rentan berbalik mendadak.
Pendorong utama tetap selisih suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang. Data ekonomi AS terbaru menjaga imbal hasil (yield) obligasi AS tetap tinggi, dengan Treasury 10 tahun bertahan di atas 4,4%, sementara suku bunga kebijakan Jepang masih mendekati nol. Carry positif (keuntungan dari selisih suku bunga saat memegang mata uang bersuku bunga lebih tinggi) terus menarik pembeli setiap kali harga turun, sehingga menopang pasangan ini.
Untuk melindungi dari penurunan mendadak akibat intervensi, kami juga mempertimbangkan membeli opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan strike di bawah harga pasar saat ini). Penembusan di bawah SMA 50 hari pada 158,78 akan menjadi sinyal awal pelemahan. Membeli put dengan strike sekitar 157,50 dapat menjadi lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) atau spekulasi yang berpotensi untung jika yen menguat tajam.
Ketegangan antara tren naik dan risiko intervensi ini mendorong kenaikan nyata pada implied volatility (volatilitas tersirat, perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin dari harga opsi). Karena itu, kami menilai strategi berbasis volatilitas seperti long straddle (membeli call dan put pada strike dan jatuh tempo yang sama, untuk untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah) bisa efektif dalam beberapa pekan ke depan. Posisi ini diuntungkan oleh pergerakan besar ke arah mana pun, yang kini makin mungkin terjadi.