GBP/USD menguat tipis pada sesi Asia Rabu, memangkas sebagian pelemahan Selasa dari sedikit di atas level 1,3500 dan bertahan di sekitar area 1,34 tengah. Pergerakan ini terjadi karena meredanya kekhawatiran inflasi dan muncul kembali harapan adanya kesepahaman damai AS-Iran menekan Dolar AS, meski ketidakpastian geopolitik yang lebih luas tetap membatasi kelanjutan penguatan.
Serangan AS yang kembali menyasar Iran melemahkan harapan solusi cepat atas konflik Timur Tengah yang sudah berlangsung tiga bulan. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut aksi itu sebagai pelanggaran gencatan senjata yang berlaku sejak awal April, sementara IRGC (Korps Garda Revolusi Iran) memperingatkan akan ada balasan. Di saat yang sama, “harga pasar” yang mencerminkan sikap Federal Reserve (bank sentral AS) yang cenderung agresif menahan penurunan USD. Kenaikan sterling juga terbatas setelah ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England (bank sentral Inggris) mundur menyusul inflasi Inggris (CPI, indeks harga konsumen) melambat ke 2,8% secara tahunan (year on year) pada April dari 3,3% sebelumnya. Ketidakstabilan politik Inggris menambah kehati-hatian, karena tidak ada pemicu data ekonomi baru dari Inggris maupun AS.
Perdagangan Sideways di Tengah Sinyal Ekonomi dan Kebijakan yang Berlawanan
Dengan sinyal yang saling bertolak belakang, kami menilai GBP/USD terjebak dalam kisaran sempit. Kekuatan dolar dari Fed yang “hawkish” (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi) berbenturan langsung dengan pelemahan dolar akibat meredanya kekhawatiran inflasi dan harapan diplomasi. Tarik-menarik ini membuat taruhan pada tren naik atau turun yang kuat dalam waktu dekat menjadi berisiko.
Kami mengacu pada data terbaru yang memperkuat pandangan ini. Laporan Non-Farm Payrolls AS (data penambahan pekerjaan di luar sektor pertanian) menunjukkan penambahan 275.000 pekerjaan, sehingga ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada rapat Juli tetap kuat. Ini menjadi penopang bagi dolar AS dan berpotensi membatasi reli GBP/USD secara berarti di atas level 1,3550. Secara historis, pasar tenaga kerja AS yang kuat cenderung mendukung dolar, meski ada gangguan berita geopolitik.
Di sisi lain, pound menghadapi tekanan tersendiri. Dengan inflasi Inggris melambat lebih cepat dari perkiraan ke 2,8% dan data PDB (produk domestik bruto) kuartal I hanya tumbuh 0,2%, kami menilai Bank of England kemungkinan tetap menahan suku bunga setidaknya hingga kuartal IV. Perbedaan arah kebijakan moneter antara The Fed dan BoE ini menjadi hambatan berkelanjutan bagi sterling.
Risiko Geopolitik Tinggi dan Dampaknya pada Volatilitas
Situasi geopolitik terkait Iran menambah ketidakpastian murni dan mendorong volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan besarnya naik-turun harga yang “terbaca” dari harga opsi) lebih tinggi. Volatilitas opsi 1 bulan untuk GBP/USD naik dari 7,5% menjadi 9,2% dalam sepekan terakhir. Ini mengindikasikan pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan baik oleh pergerakan tajam maupun kondisi tetap “macet”, seperti membeli strangle (strategi opsi: membeli opsi beli dan opsi jual di harga yang berbeda untuk bertaruh pada pergerakan besar ke salah satu arah) atau menjual iron condor (strategi opsi: menggabungkan posisi opsi untuk mencari untung saat harga bertahan dalam kisaran).
Kondisi ini mengingatkan pada kebuntuan geopolitik sebelumnya, ketika mata uang bergerak gelisah mengikuti judul berita, bukan faktor fundamental. De-eskalasi mendadak dengan Iran dapat memicu lonjakan menuju 1,3600, sementara pembalasan militer kemungkinan memicu flight to safety (perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti USD), yang dapat menekan pasangan ini menuju area support 1,3300.