Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan kepada Treasury Committee pada Rabu bahwa kondisi pasar keuangan yang lebih ketat memberi Bank waktu untuk menilai apakah akan menaikkan suku bunga atau mempertahankannya.
Ia mengatakan prospek pertumbuhan dan pasar tenaga kerja mulai melemah. Ia juga menyatakan tidak melihat *inflation expectations* (ekspektasi inflasi, yakni perkiraan rumah tangga dan pelaku usaha soal inflasi ke depan) “lepas jangkar” (*de-anchored*, yaitu kondisi saat ekspektasi inflasi tidak lagi stabil di sekitar target bank sentral sehingga lebih sulit dikendalikan).
Wage Growth And Inflation Signals
Bailey melaporkan penurunan bertahap yang berlanjut pada kesepakatan kenaikan upah sektor swasta (hasil negosiasi upah antara perusahaan dan pekerja). Ia menyebut data inflasi harga pangan hari itu lebih rendah dari perkiraan.
Ia menambahkan, data jumlah uang beredar (money supply, yakni ukuran total uang yang beredar di perekonomian seperti uang tunai dan simpanan bank) tidak menunjukkan adanya tekanan inflasi. Ia mengaitkan pernyataannya dengan dampak pengetatan kondisi keuangan di pasar terhadap waktu pengambilan kebijakan.
Sinyal ini mengarah pada Bank of England yang berpotensi menahan kenaikan suku bunga, karena pasar keuangan sudah lebih dulu memperketat kondisi pembiayaan (misalnya biaya pinjaman naik, kredit lebih ketat). Gambaran pertumbuhan juga melemah, dengan data terbaru Office for National Statistics (ONS, badan statistik Inggris) menunjukkan pertumbuhan PDB (GDP, nilai total produksi barang dan jasa) Inggris melambat menjadi 0,1% pada kuartal I 2026. Ini berbeda dibanding pemulihan yang lebih kuat pada paruh kedua 2025.
Sikap ini mengarah pada peluang suku bunga turun dalam waktu dekat. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi *long* (membeli untuk mengambil untung jika harga naik) pada kontrak futures Short Sterling (SONIA) untuk jatuh tempo akhir 2026 dan awal 2027. SONIA adalah suku bunga acuan transaksi pinjaman semalam di pasar uang Inggris, yang umum dipakai sebagai patokan suku bunga. Pasar saat ini memperkirakan *bank rate* (suku bunga acuan Bank of England) 5,25% pada akhir tahun, yang terlihat terlalu tinggi mengingat CPI (Consumer Price Index, indeks harga konsumen sebagai ukuran inflasi) April tercatat 3,1%, lebih rendah dari perkiraan.
Trading Implications For Gbp And Rates
Bank of England yang kurang agresif menjadi tekanan bagi Pound Sterling. Strategi yang bisa dipertimbangkan adalah *short* GBP/USD (menjual Pound terhadap Dolar AS untuk meraih keuntungan bila nilainya turun), karena bank sentral AS Federal Reserve memberi sinyal suku bunga tinggi lebih lama (*higher for longer*, artinya suku bunga dipertahankan tinggi untuk waktu lebih panjang) dalam upaya menekan inflasi. Perbedaan arah kebijakan ini dapat mendorong pasangan mata uang tersebut turun, berpotensi kembali ke area 1,22 seperti saat ketidakpastian ekonomi akhir 2025.
Pertumbuhan yang melemah dan pasar tenaga kerja yang mendingin, dengan tingkat pengangguran kini 4,5%, juga berdampak pada saham. Penurunan bertahap pada kesepakatan kenaikan upah sektor swasta mengurangi tekanan pada margin perusahaan (selisih laba). Kondisi ini bisa mendukung strategi membeli opsi call (hak membeli aset pada harga tertentu, biasanya dipakai untuk memanfaatkan potensi kenaikan) pada indeks FTSE 250, yang lebih sensitif terhadap ekonomi domestik Inggris dibanding FTSE 100 yang lebih banyak berisi perusahaan berorientasi global.
Inflasi harga pangan yang lebih rendah dari perkiraan dalam rilis terbaru membantu menguatkan pandangan bahwa ekspektasi inflasi masih stabil. Ini berbeda dibanding inflasi pangan yang bertahan di atas 8% pada pertengahan 2025. Perlambatan pertumbuhan jumlah uang beredar juga mendukung pandangan bahwa tekanan inflasi secara umum mulai mereda.