Berbagai Tantangan Makro, Minyak dan Selisih Imbal Hasil Terus Menekan Rupiah Saat BI Perketat Kebijakan

    by VT Markets
    /
    May 27, 2026

    Tekanan makro masih membebani rupiah Indonesia. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun berada di atas 4% bersamaan dengan harga minyak yang tinggi, serta selisih suku bunga (interest-rate differential, yaitu perbedaan tingkat bunga antarnegara yang memengaruhi arus modal) yang disebut berada di level terendah secara historis, sehingga menekan IDR terhadap dolar AS. Faktor eksternal ini diperparah oleh melemahnya transaksi berjalan (current account, yaitu selisih penerimaan dan pembayaran devisa dari perdagangan barang/jasa serta pendapatan), yang tercatat -1,1% dari PDB pada kuartal I, sementara risiko fiskal terkait subsidi energi dan pelemahan pertumbuhan dasar menambah kerentanan. Pertumbuhan kuartal I ditopang kenaikan belanja pemerintah, menyumbang +1,3 poin persentase (pp) dibanding +0,4 pp pada kuartal IV 2025.

    Risiko inflasi cenderung naik seiring harga minyak yang lebih tinggi, rupiah melemah, dan kesenjangan output (output gap, yaitu selisih antara kapasitas ekonomi “normal” dan realisasi; saat celah menutup, tekanan harga biasanya naik) yang semakin menyempit, meski subsidi menunda kenaikan harga ke konsumen (pass-through, yaitu kenaikan biaya—misalnya dari kurs atau energi—yang diteruskan ke harga barang/jasa). Perkiraan menunjukkan inflasi umum (headline inflation, yaitu inflasi total termasuk komponen yang bergejolak seperti pangan dan energi) rata-rata 3% pada 2026, naik dari 1,9% pada 2025, sementara pertumbuhan PDB diproyeksikan 5,3% dibanding 5,1% pada 2025. Pengetatan Bank Indonesia (BI), termasuk kenaikan 50 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) pada Mei dan yield SRBI tenor 12 bulan di 6,8% (SRBI: instrumen surat berharga BI untuk menyerap likuiditas), memberi dukungan, meski dua kenaikan BI tambahan masing-masing 25 bps masih mungkin terjadi; penurunan eskalasi AS–Iran disebut sebagai pemicu potensial pembalikan USD/IDR.

    Tekanan Makro dan Domestik yang Masih Membebani Rupiah

    Kami menilai tekanan makro utama masih akan menekan Rupiah dalam beberapa pekan ke depan. Yield AS yang lebih tinggi, dengan Treasury tenor 2 tahun sekitar 4,1%, dan harga minyak tinggi mendekati US$90 per barel memperkuat dolar. Kondisi ini membuat ruang penguatan Rupiah terbatas.

    Tekanan bertambah dari faktor domestik, termasuk memburuknya transaksi berjalan yang mencatat defisit 1,1% dari PDB pada kuartal I 2026. Ini berbalik dari surplus pada tahun-tahun sebelumnya dan, bersama risiko subsidi energi, meningkatkan kerentanan mata uang. Kami melihat kurs USD/IDR menguji level tertinggi beberapa tahun, mendekati 16.500.

    Bank Indonesia aktif menahan pelemahan, setelah menaikkan suku bunga 50 bps bulan ini dan pasar memperkirakan setidaknya dua kenaikan lagi masing-masing 25 bps tahun ini. Kebijakan moneter yang lebih ketat (tightening, yaitu menaikkan suku bunga/mengetatkan likuiditas untuk menahan inflasi dan menstabilkan kurs) memberi dukungan. Namun, kepercayaan investor tetap rapuh karena kekhawatiran potensi intervensi pemerintah pada ekspor komoditas.

    Posisi Pasar, Risiko, dan Pemicu Pembalikan

    Meski tren kenaikan USD/IDR kuat, kami menilai keseimbangan risiko-imbalan (risk-reward, yaitu perbandingan potensi untung dan rugi) mulai berubah. Pasangan ini kini berada di area sangat jenuh beli (overbought, yaitu kenaikan sudah terlalu cepat sehingga rawan koreksi), dengan indikator teknikal seperti Relative Strength Index/RSI (indikator momentum; di atas 70 sering dianggap jenuh beli) jauh di atas 70. Berdasarkan nilai tukar efektif riil (real effective exchange rate/REER, yaitu nilai tukar setelah disesuaikan inflasi dan dibandingkan dengan banyak mitra dagang), Rupiah terlihat sangat murah, mendekati level undervalued (dinilai terlalu rendah) yang terakhir terlihat pada “Taper Tantrum” 2013 (periode gejolak saat bank sentral AS memberi sinyal pengurangan stimulus, memicu arus keluar dari pasar berkembang).

    Dengan posisi yang sudah “tegang” seperti ini, kami menilai tidak bijak mengejar reli USD/IDR lebih tinggi. Kami melihat opsi (options, yaitu kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual pada harga tertentu) bisa dipakai untuk bersiap menghadapi pembalikan tajam. Membeli put USD/IDR yang out-of-the-money (harga kesepakatan/strike berada di bawah harga pasar saat ini, sehingga lebih murah) memberi cara berbiaya rendah untuk mendapat eksposur penurunan jika ada pemicu.

    Kami akan mencermati pemicu yang dapat menyalakan pembalikan ini. Penurunan eskalasi ketegangan geopolitik, seperti antara AS dan Iran, dapat menekan harga minyak dan menguntungkan Rupiah. Selain itu, tanda pelemahan data ekonomi AS dapat menurunkan ekspektasi suku bunga The Fed (bank sentral AS) dan melemahkan dolar, sehingga mendorong koreksi cepat pada USD/IDR.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code