Harga minyak naik, dengan Brent menguat karena perang Iran mengganggu pasokan energi. Pasar minyak dan gas dipakai sebagai petunjuk kondisi pasar yang lebih luas.
Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasar gas alam global diperkirakan tetap ketat setidaknya dua tahun lagi. Perang ini juga menunda ekspansi LNG (gas alam cair, yaitu gas yang didinginkan hingga menjadi cair agar mudah diangkut) yang sebelumnya diperkirakan terjadi.
Gangguan Pasokan dan Dampaknya ke Pasar
Konflik ini menghilangkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global. Kerusakan pada fasilitas Qatar menurunkan kapasitas pencairan (kemampuan mengubah gas menjadi LNG) dan bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki, sehingga menunda pertumbuhan pasokan baru yang dipimpin AS.
IEA memperkirakan kekurangan kumulatif sekitar 120 miliar meter kubik pada 2026-2030. Ini menandakan pasar tetap ketat pada periode tersebut.
Permintaan gas melemah di wilayah importir utama, terutama Asia. Harga yang lebih tinggi dan kebijakan pemerintah mendorong peralihan bahan bakar (fuel switching, yaitu berpindah dari gas ke sumber energi lain) dan menekan konsumsi.
Minyak tetap menjadi fokus utama pasar, dengan konflik yang berlanjut menjaga harga tetap tinggi. Minyak Brent bertahan di atas US$115 per barel, level yang belum bertahan lama sejak gejolak 2022. Kami melihat peluang membeli call option berjangka panjang (opsi beli dengan jatuh tempo lebih lama, memberi hak membeli di harga tertentu) untuk menangkap potensi kenaikan sambil membatasi risiko.
Kondisi ini mirip dengan 2022 setelah invasi Ukraina. Pada 2025, banyak yang mengira premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko perang/sanksi) akan mereda, tetapi konflik Iran membuktikan guncangan dari sisi pasokan kembali dominan. Ini mengarah pada pergerakan harga yang tajam dan sulit diprediksi dalam beberapa bulan ke depan.
Volatilitas Opsi dan Posisi Perdagangan
Situasi gas alam lebih kritis, terutama karena kerusakan fasilitas LNG Qatar. Saat harga TTF Eropa (patokan harga gas di Eropa) diperdagangkan di atas US$35/MMBtu (MMBtu adalah satuan energi untuk gas), selisihnya dengan Henry Hub AS (patokan harga gas di AS) tetap sangat lebar, mencerminkan perebutan pasokan dari luar wilayah konflik. Harapan pasokan tambahan dari terminal ekspor AS (fasilitas untuk mengirim LNG ke luar negeri) kini mundur lebih jauh, sehingga pasar tetap ketat setidaknya hingga 2028.
Volatilitas (besarnya naik-turun harga) yang tinggi membuat membeli opsi secara langsung menjadi sangat mahal. Strategi yang bisa dipertimbangkan antara lain menjual cash-secured put saat harga turun tajam (menjual opsi jual dengan dana tunai disiapkan untuk membeli jika dieksekusi) atau memakai vertical spread (membeli dan menjual opsi pada strike price berbeda untuk menekan biaya masuk) untuk posisi yang mengincar kenaikan. Implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada kontrak bulan terdekat konsisten di atas 40%, membuka peluang mengambil premi (pendapatan dari menjual opsi).
Kami juga perlu memantau sisi permintaan, karena harga tinggi mulai memukul konsumsi di Asia. Data purchasing managers’ index/PMI (indeks aktivitas manufaktur, sering jadi indikator awal permintaan energi) dari pasar negara berkembang utama menunjukkan pelemahan tipis di manufaktur. Ini bisa membatasi kenaikan harga, sehingga posisi beli futures (kontrak berjangka yang mewajibkan transaksi di masa depan) tanpa stop-loss (batas rugi otomatis) menjadi berisiko.
Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.