Minyak mentah Brent hampir menyentuh $100/barel pada Kamis, lalu turun pada Jumat karena perdagangan mengikuti perubahan berita tentang perundingan AS–Iran dan gencatan senjata regional. Brent ditutup di $99,39/barel setelah naik +4,70%.
Reuters mengutip dua sumber Iran yang mengatakan negosiator AS dan Iran telah mengurangi rencana untuk kesepakatan damai menyeluruh. Laporan itu menyebut mereka mempertimbangkan memorandum sementara (nota kesepahaman sementara) untuk mencegah konflik berulang.
Sinyal Negosiasi Menggerakkan Pasar Minyak
Kantor berita Tasnim melaporkan Iran, melalui mediasi Pakistan, menyatakan AS harus lebih dulu memenuhi komitmennya. Disebutkan juga pembicaraan tidak akan membantu tanpa pengaturan awal dan kerangka kerja yang disepakati.
Laporan itu juga mencatat reli saham AS (kenaikan luas di pasar saham) berlanjut meski harga minyak naik. Artikel ini dibuat menggunakan alat AI dan ditinjau editor.
Pola ini masih terjadi, karena pasar tetap tegang. Dengan disiplin OPEC+ (kesepakatan negara OPEC dan sekutunya untuk membatasi/menambah produksi) bertahan kuat hingga kuartal pertama 2026 dan persediaan global tetap di bawah rata-rata lima tahun, setiap ancaman terhadap pasokan berdampak besar. Contohnya, data satelit awal April 2026 menunjukkan penurunan 5% jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dibanding bulan sebelumnya, angka yang diawasi ketat oleh pelaku pasar.
Strategi Menghadapi Volatilitas Karena Berita
Dengan ancaman volatilitas karena berita (pergerakan harga tajam akibat berita) yang terus ada, kami menilai pelaku pasar derivatif (produk turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) sebaiknya fokus membeli opsi daripada menahan posisi futures (kontrak berjangka) secara langsung. Membeli call atau put (opsi beli atau opsi jual) memberi eksposur pada lonjakan harga beberapa dolar yang bisa dipicu satu berita, sambil membatasi risiko maksimum. Volatilitas tersirat pada opsi Brent (perkiraan gejolak yang “dipasang” pasar dalam harga opsi) naik di atas 40%, menandakan pasar memperkirakan pergerakan harga besar dalam beberapa pekan ke depan.
Kondisi ini mirip dengan awal 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu, harga futures Brent berayun tajam dalam kisaran $30, melonjak dari sekitar $95 ke atas $125 per barel lalu turun lagi hanya dalam beberapa minggu. Contoh historis itu menunjukkan pelaku pasar yang “long volatility” (berposisi di strategi yang untung saat gejolak naik), bukan sekadar “long” pasar (bertaruh harga naik), yang paling diuntungkan.
Karena itu, strategi yang diuntungkan dari pergerakan besar ke arah mana pun layak dipertimbangkan. Ini membantu Anda bersiap saat volatilitas melonjak tanpa harus menebak hasil negosiasi yang rumit dan sulit diprediksi. Ini pada dasarnya bertaruh pada berlanjutnya ketidakpastian pasar.
Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.