Perak diperdagangkan mendekati US$80,50 per ons troy (satuan standar untuk logam mulia, sekitar 31,1 gram) pada perdagangan Asia Senin, memangkas penurunan namun masih melemah. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz mengangkat harga minyak, menambah kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang secara umum) dan meningkatkan peluang bank sentral kembali menaikkan suku bunga (biaya pinjaman/acuan).
Militer Iran menyatakan Amerika Serikat melanggar gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembak-menembak) dengan menembaki kapal niaga Iran, menurut Bloomberg. Iran memperingatkan akan segera membalas apa yang disebutnya sebagai “agresi maritim” (tindakan kekerasan di laut).
Eskalasi Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman. Ia menyebut kapal itu tidak mematuhi perintah untuk berhenti saat meninggalkan Hormuz.
Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan Teheran menolak melanjutkan perundingan dengan pejabat AS dengan alasan “ekspektasi yang tidak realistis”. Trump mengatakan pejabat AS akan pergi ke Islamabad untuk pembicaraan dengan Iran pada Senin.
Iran sempat menyatakan pada Jumat bahwa selat akan dibuka kembali, lalu membalikkan keputusan itu pada Sabtu setelah Trump menolak mencabut blokade (penutupan akses) di pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump juga mengkritik keputusan Iran menutup kembali selat dan kembali mengancam akan menargetkan infrastruktur Iran (fasilitas penting), termasuk pembangkit listrik dan jembatan.
Implikasi Perdagangan Dan Lindung Nilai
Kondisi perak di US$80,50 rumit karena terseret dua kekuatan besar. Biasanya, kekacauan geopolitik mengangkat aset safe haven (aset “tempat berlindung” saat risiko tinggi). Namun saat ini, kekhawatiran kenaikan suku bunga agresif dari Federal Reserve (bank sentral AS) untuk menahan inflasi yang dipicu minyak lebih dominan, sehingga dolar menguat dan menekan perak yang tidak memberikan imbal hasil (aset yang tidak membayar bunga/kupon). Dinamika serupa terjadi pada 2022 ketika kenaikan suku bunga awal The Fed sempat membatasi kenaikan logam mulia meski inflasi tinggi. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli put (opsi jual, yaitu hak untuk menjual pada harga tertentu) pada perak atau membangun straddle (strategi membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama) untuk memanfaatkan potensi pergerakan harga yang besar.
Posisi yang paling langsung adalah long minyak mentah (membeli dengan harapan harga naik), karena gangguan di Selat Hormuz langsung menekan pasokan global. Guncangan geopolitik ini telah mendorong harga WTI (West Texas Intermediate, patokan minyak AS) naik lebih dari 25% dalam sebulan terakhir, menembus resistance (batas atas harga yang sering menjadi penghalang kenaikan) US$110 per barel, level yang tidak terlihat sejak akhir 2024. Membeli call option (opsi beli, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli pada harga tertentu di masa depan) minyak atau ETF terkait (reksa dana berbentuk saham yang mengikuti indeks/aset) memberi paparan langsung ke eskalasi lanjutan dengan risiko penurunan yang terbatas jika solusi diplomatik tiba-tiba tercapai.
Akibatnya, pasar saham yang lebih luas juga berisiko melemah. Kombinasi biaya energi yang melonjak dan kemungkinan suku bunga lebih tinggi menjadi hambatan besar bagi laba perusahaan dan valuasi saham (harga yang dianggap wajar). Melakukan short pada S&P 500 futures (menjual lebih dulu untuk untung jika harga turun) atau membeli put option pada indeks utama dapat menjadi lindung nilai (hedging, strategi mengurangi risiko) terhadap risiko stagflasi (inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi lemah) yang membayangi ekonomi.
Lingkungan ini cenderung menguntungkan dolar AS, yang terdorong oleh arus ke aset aman dan ekspektasi suku bunga naik. Setelah The Fed menaikkan suku bunga ke 6,0% tahun lalu, pasar sempat memperkirakan jeda, namun kini kembali dipertimbangkan. Indeks Dolar (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berpotensi menuju level puncak seperti akhir 2025, sehingga posisi long dolar terhadap mata uang dengan bank sentral yang lebih dovish (cenderung mendukung suku bunga lebih rendah/lebih longgar) menjadi strategi menarik.