Analis Commerzbank memperkirakan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) akan mempertahankan kisaran target suku bunga federal funds (suku bunga acuan jangka sangat pendek di pasar antarbank AS) di 3,50%–3,75% pada rapat berikutnya. Ini akan menjadi penahanan suku bunga untuk ketiga kalinya. Pandangan ini didasarkan pada inflasi yang masih di atas target serta kenaikan harga yang terkait konflik di Timur Tengah dan minyak.
Para analis menyebut inflasi sudah berada di atas target selama lima tahun. Mereka juga menilai ekspektasi inflasi (perkiraan pelaku pasar dan rumah tangga tentang arah inflasi ke depan) mungkin tidak lagi “terjangkar” sekuat sebelumnya, artinya keyakinan bahwa inflasi akan kembali ke target menjadi lebih rapuh.
Fed Expected To Hold Rates
Mereka memperkirakan The Fed akan menghindari pemangkasan suku bunga dalam kondisi saat ini agar tidak menambah tekanan inflasi. Ada catatan soal tekanan politik agar suku bunga dipangkas, tetapi skenario utama tetap tidak ada perubahan pada rapat tersebut.
Mereka menambahkan bahwa, paling jauh, Gubernur Miran mungkin memilih pemangkasan suku bunga. Meski begitu, hasil yang diharapkan tetap kisaran target 3,50%–3,75%.
Para analis memproyeksikan pemangkasan suku bunga bisa berlanjut menjelang akhir tahun jika inflasi mereda. Mereka juga memperkirakan Dolar AS melemah seiring waktu, dikaitkan dengan pemangkasan suku bunga AS yang besar serta kekhawatiran atas independensi Federal Reserve (kemampuan bank sentral mengambil kebijakan tanpa campur tangan politik).
Melihat kembali pandangan kami dari 2025, ekspektasinya The Fed akan menahan tekanan politik dan mempertahankan suku bunga, dan itu sempat terbukti. Kini pada April 2026, setelah dua pemangkasan kecil, The Fed kembali menahan dengan kisaran target di 3,00%–3,25%. Dengan data CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) Maret terbaru yang menunjukkan inflasi masih “lengket” di 3,1% (sulit turun cepat), The Fed tetap enggan melonggarkan kebijakan lebih jauh.
Market Implications For Traders
Kondisi ini mengindikasikan pasar mungkin terlalu agresif memperhitungkan pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Trader dapat mempertimbangkan strategi opsi (kontrak derivatif/hak untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu) pada futures SOFR (kontrak berjangka berbasis Secured Overnight Financing Rate, suku bunga overnight acuan pasar uang AS) yang berpotensi untung jika The Fed menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan. Pertarungan antara inflasi yang keras kepala dan keinginan melonggarkan kebijakan membuat prospek suku bunga jangka pendek cenderung bergerak terbatas dalam rentang tertentu (range-bound).
Kami memperkirakan harga minyak akan menjadi faktor utama, dengan konflik di Timur Tengah pada 2025 mendorong minyak mentah di atas US$110 per barel. Meski berakhirnya perang dengan Iran menurunkan harga, minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) masih tinggi, bertahan di sekitar US$85. Tekanan biaya ini terus masuk ke inflasi inti (core inflation, inflasi yang mengecualikan komponen bergejolak seperti energi dan pangan), sehingga mendukung sikap The Fed yang berhati-hati.
Pelemahan Dolar AS yang diprediksi juga terjadi karena pasar mengantisipasi pemangkasan suku bunga yang berlebihan. Indeks Dolar (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) yang sempat berada di dekat 105 pada sebagian 2025, kini turun ke sekitar 98. Kekhawatiran soal independensi The Fed yang melemah dan defisit anggaran yang membengkak membuka peluang posisi untuk pelemahan dolar lebih lanjut melalui futures mata uang (kontrak berjangka valuta) atau opsi.
Konflik antara kebutuhan The Fed menjaga ekspektasi inflasi tetap “terjangkar” dan seruan politik untuk pelonggaran yang lebih agresif menciptakan latar yang rapuh. Ini mengarah pada volatilitas pasar (tingkat naik-turun harga) yang lebih tinggi dalam jangka dekat. Trader derivatif (instrumen turunan seperti futures dan opsi) dapat mempertimbangkan membeli proteksi atau berspekulasi pada lonjakan ketidakpastian, misalnya lewat opsi call (hak membeli) pada indeks VIX (indikator volatilitas pasar saham AS yang sering disebut “indeks ketakutan”).