Ekonom Commerzbank: Negara Maju Akan Lebih Minim Terdampak Meski Penurunan Produksi Minyak Global Lebih Tajam Dibanding 1970-an

    by VT Markets
    /
    Apr 17, 2026

    Produksi minyak global turun lebih tajam dibanding krisis minyak mana pun dalam 50 tahun terakhir, akibat blokade Selat Hormuz dan serangan ke lokasi produksi serta fasilitas pemuatan minyak di kawasan Teluk Persia. IEA (International Energy Agency/Badan Energi Internasional) memperkirakan produksi minyak mentah harian turun setidaknya 10 juta barel sejak awal Perang Iran, atau sekitar 12% dari produksi global.

    Harga minyak naik lebih kecil dibanding guncangan minyak pada 1970-an. Rata-rata harga minyak tahunan pada 1974 sekitar 250% lebih tinggi dari 1973, dan pada 1979 harga minyak mentah per barel sekitar 125% di atas rata-rata tahun sebelumnya. Tahun ini, harga diperkirakan maksimal hanya 60% lebih tinggi dari rata-rata tahun sebelumnya.

    Intensitas Energi dan Dampak Ekonomi

    Negara maju kini memakai lebih sedikit minyak untuk menghasilkan nilai output yang sama dibanding 50 tahun lalu. Intensitas energi (jumlah energi/minyak yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output ekonomi) yang lebih rendah ini mengurangi turunnya daya beli akibat kenaikan harga. Pada krisis minyak pertama, tagihan impor minyak Jerman naik 2,5% dari PDB (GDP/Produk Domestik Bruto, total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara) dan Jepang hampir 4%. Sementara itu, kenaikan US$40 per barel diproyeksikan hanya menaikkan tagihan minyak sebesar 0,5% hingga 1% dari PDB di empat negara yang diteliti.

    Prospek tetap tidak pasti karena potensi gangguan rantai pasok (supply chain, alur pasokan dari produksi hingga distribusi) dan kerusakan berkepanjangan pada infrastruktur energi Teluk. Artikel ini dibuat dengan alat AI (kecerdasan buatan) dan ditinjau editor.

    Dalam beberapa pekan ke depan, ini mengindikasikan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga di masa depan yang tercermin pada harga opsi) pada opsi minyak (oil options, kontrak derivatif yang memberi hak untuk membeli/menjual minyak pada harga tertentu) bisa cenderung terlalu mahal saat ketegangan geopolitik meningkat. Krisis 2025 membuat harga naik hanya 60%, jauh di bawah kejadian historis, sehingga banyak opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga kesepakatan di atas harga pasar, sehingga kecil peluang untung) berakhir tidak bernilai. Saat ini, CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX) (indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas harga minyak dari pasar opsi) berada di sekitar 35, jauh di bawah puncak 2025 yang di atas 80, menandakan pasar mulai menyerap pelajaran ini.

    Suku Bunga dan Posisi Lintas Aset

    Dampak ke PDB yang lebih kecil dari perkiraan juga berpengaruh pada derivatif suku bunga (kontrak keuangan yang nilainya bergantung pada pergerakan suku bunga). Pada akhir 2025, pasar sempat memasang harga skenario pemangkasan suku bunga agresif oleh bank sentral yang tidak sepenuhnya terjadi karena kerusakan ekonomi terbatas. Ini mengisyaratkan bahwa pada guncangan energi berikutnya, bisa ada peluang mengambil posisi berlawanan terhadap ekspektasi “sangat dovish” (dovish, sikap kebijakan yang cenderung menurunkan suku bunga/longgar) yang berlebihan di pasar futures Eurodollar atau Fed Funds (kontrak berjangka yang merefleksikan ekspektasi suku bunga jangka pendek AS).

    Namun, perlu mempertimbangkan peringatan soal kerusakan infrastruktur energi yang bertahan lama, yang menciptakan “lantai” harga lebih tinggi (harga cenderung tidak turun terlalu rendah karena pasokan terbatas). Laporan April 2026 menunjukkan beberapa fasilitas pemuatan di Teluk Persia masih beroperasi di bawah kapasitas sebelum 2025, sehingga premi risiko (tambahan harga karena ketidakpastian) tetap ada di pasar. Ini membuat kepemilikan futures minyak berjangka panjang (long-dated oil futures, kontrak berjangka dengan jatuh tempo lebih lama) atau opsi call menjadi lindung nilai (hedge, strategi untuk mengurangi risiko) yang masuk akal terhadap lambatnya perbaikan.

    Karena ekonomi makin tidak bergantung pada minyak, investor dapat melihat transaksi nilai relatif (relative value trades, strategi mengambil posisi pada dua aset untuk memanfaatkan perbedaan kinerja). Pada 2025, futures pada indeks sektor consumer discretionary (sektor barang/jasa non-esensial) dan teknologi pulih jauh lebih cepat dibanding yang terkait industri berat atau transportasi. Pola ini menunjukkan bahwa saat ketidakpastian energi tinggi, strategi pairs trade (pairs trade, membeli satu aset dan menjual aset lain untuk memanfaatkan selisih pergerakan) dengan posisi long pada indeks berfokus teknologi dan short pada indeks berfokus industri bisa berkinerja baik.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code