Ekonom Standard Chartered Madhur Jha dan Ethan Lester menilai bagaimana risiko konflik Timur Tengah dapat memengaruhi arus remitansi global

    by VT Markets
    /
    Apr 17, 2026

    Ekonom Standard Chartered menilai bagaimana konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi remitansi global. Mereka mengatakan ekonomi negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)—kelompok negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman—adalah sumber utama remitansi (uang kiriman pekerja migran) ke Mesir, Pakistan, Filipina, Bangladesh, dan Sri Lanka.

    Mereka menggambarkan guncangan harga energi (kenaikan tajam harga minyak dan gas) sebagai risiko utama bagi ekonomi global, dengan kemungkinan resesi (kontraksi ekonomi yang berkepanjangan) jika berlangsung lama. Mereka juga menyoroti potensi gangguan fisik pada pasokan minyak dan gas serta dampak lanjutan yang lebih luas pada perekonomian, terutama di Asia.

    Risks To Trade And Supply Chains

    Mereka mencatat barang lain yang melewati Selat Hormuz juga bisa terganggu. Ini dapat mengancam aktivitas produksi lanjutan (downstream)—tahap pengolahan dan distribusi setelah bahan baku—di berbagai sektor.

    Catatan tersebut menyebut ekonomi GCC menampung banyak ekspatriat (pekerja asing) yang mengirim remitansi pribadi untuk membantu memperkuat neraca pembayaran (catatan arus devisa masuk dan keluar) negara penerima. Disebutkan juga Timur Tengah kini menjadi tujuan sekaligus sumber perjalanan internasional dan pariwisata.

    Terkait remitansi, mereka mengatakan dampak konflik tidak mudah dipastikan. Saat COVID-19, perkiraan awal memprediksi remitansi turun 20–40%, namun realisasinya hanya turun 2,4% secara tahunan (year on year/YoY, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya) pada 2020.

    Mereka menilai dampak ekonomi nonmigas (aktivitas ekonomi di luar minyak dan gas) kecil kemungkinannya menyamai COVID-19. Mereka menambahkan bahwa sejauh ini bukti menunjukkan penarikan pekerja asing masih terbatas, tetapi konflik berkepanjangan dapat meningkatkan relokasi (pindah tempat kerja/negara) dan menekan arus remitansi.

    Market Hedging And Volatility Signals

    Risiko utama yang mereka lihat adalah guncangan harga energi, yang berpotensi mendorong ekonomi global ke perlambatan tajam. Laporan terbaru pekan lalu mengindikasikan negosiasi gencatan senjata mengalami kebuntuan, dan kontrak berjangka (futures: perjanjian membeli/menjual aset di harga tertentu untuk tanggal mendatang) minyak Brent baru menembus US$95 per barel untuk pertama kalinya tahun ini. Ini menunjukkan pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi beli (call option: hak, bukan kewajiban, untuk membeli di harga tertentu) pada WTI atau Brent sebagai lindung nilai (hedging: strategi mengurangi risiko) terhadap gangguan pasokan lebih lanjut melalui Selat Hormuz.

    Mereka juga memantau dampak yang lebih luas, terutama pada mata uang negara yang sangat bergantung pada remitansi dari Teluk, seperti Mesir dan Pakistan. Meski belum ada arus keluar besar pekerja, laporan terbaru Bank Dunia mencatat penurunan 3% arus remitansi ke Asia Selatan pada kuartal I 2026, dan menandainya sebagai kekhawatiran yang meningkat. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan: produk keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan) dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put option: hak untuk menjual di harga tertentu) pada mata uang seperti peso Filipina (PHP) atau rupee Pakistan (PKR) sebagai lindung nilai bila konflik memburuk.

    Mereka mengingat kembali pandemi 2020, ketika kekhawatiran awal soal runtuhnya remitansi ternyata berlebihan karena arus global hanya turun 2,4%. Namun situasi kali ini berbeda; konflik berkepanjangan menciptakan risiko fisik, sehingga meningkatkan peluang relokasi pekerja dengan cara yang tidak terjadi pada pandemi global. Risiko dasar berupa orang benar-benar meninggalkan kawasan ini dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar (priced in: sudah diperhitungkan oleh pelaku pasar).

    Ketidakpastian konflik yang berkepanjangan sudah memicu kegelisahan di pasar yang lebih luas. Mereka melihat VIX—indeks volatilitas (ukuran naik-turun harga) yang sering disebut “indikator ketakutan” pasar—naik 5 poin dalam dua pekan terakhir. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi beli (long position: mendapat untung jika harga naik) pada indeks volatilitas sebagai cara langsung memanfaatkan meningkatnya ketegangan, yang juga berdampak pada sektor perjalanan internasional dan pariwisata.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code