Ekonom TD Securities memperkirakan Bank of England akan mempertahankan **Bank Rate** (suku bunga acuan) di **3,75%** dan keputusan diambil **bulat** melalui pemungutan suara. Mereka memperkirakan bank sentral tetap memakai pendekatan **wait-and-see** (menunggu sambil memantau) untuk menilai bagaimana konflik memengaruhi harga di dalam negeri di luar energi.
Mereka memperkirakan perubahan pada pernyataan kebijakan akan terbatas, termasuk penegasan bahwa inflasi **CPI** (indeks harga konsumen, ukuran inflasi utama) akan lebih tinggi dalam waktu dekat. Mereka juga memperkirakan **MPC** (Monetary Policy Committee/komite penentu suku bunga) menyoroti meningkatnya risiko **second-round effects** (dampak lanjutan, misalnya kenaikan upah dan harga jasa yang ikut terdorong setelah harga energi naik).
Policy Outlook And Projections
Para ekonom memperkirakan proyeksi bank sentral akan menunjukkan inflasi lebih tinggi pada Tahun 1 dan Tahun 2. Mereka juga memperkirakan pertumbuhan **PDB/GDP** (Produk Domestik Bruto, ukuran total output ekonomi) sedikit lebih kuat di awal, lalu melemah setelahnya.
Mereka memproyeksikan inflasi Tahun 2 sedikit di atas 2%, dibanding proyeksi sebelumnya 1,8%. Mereka juga melihat risiko inflasi Tahun 3 naik di atas proyeksi Februari sebesar 2,0%.
Mereka memperkirakan MPC lebih menekankan **analisis skenario** (menguji beberapa kemungkinan kondisi ekonomi) dalam proyeksinya. Salah satu skenario adalah tekanan harga energi lebih parah, yang dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan PDB lebih lemah.
Menilik kembali ke 2025, Bank of England menahan suku bunga di 3,75% dan memberi sinyal pendekatan “wait-and-see” yang ternyata menjadi jeda ketat sebelum kenaikan lanjutan. Kenaikan berikutnya diperlukan karena inflasi lebih sulit turun dari perkiraan, sehingga Bank Rate mencapai puncak siklus 5,25%. Kini, perdebatan bergeser dari seberapa tinggi suku bunga akan naik menjadi kapan suku bunga akan mulai turun.
Trading Implications For Rates Markets
Kekhawatiran tahun lalu bahwa inflasi akan tetap di atas target sebagian besar terjadi, meski kebijakan sudah diperketat agresif. Data terbaru dari **Office for National Statistics** (badan statistik nasional Inggris) menunjukkan CPI Inggris masih di 2,4%, di atas target 2%. Kondisi ini kini dibandingkan dengan momentum pertumbuhan yang jauh lebih lemah dari perkiraan, dengan ekonomi hampir tidak tumbuh dalam dua kuartal terakhir.
Kenyataan ini berarti pelaku pasar **derivatif** (instrumen turunan, nilainya mengikuti aset acuan seperti suku bunga) sebaiknya fokus pada waktu dan kecepatan pelonggaran kebijakan. Jika tahun lalu pasar lebih banyak memperkirakan suku bunga ditahan lama atau naik lagi, pasar **SONIA futures** (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi suku bunga berbasis SONIA, suku bunga overnight bebas risiko di Inggris) kini mengisyaratkan bank sentral akan mulai memangkas suku bunga dalam enam bulan ke depan. Strategi utama adalah bersiap terhadap perubahan arah ini, dengan **swap** (kontrak menukar pembayaran bunga tetap dan mengambang) dan **opsi** (hak, bukan kewajiban, untuk bertransaksi di harga tertentu) disusun mengacu pada tanggal rapat MPC penting akhir tahun ini.
Penekanan pada analisis skenario tetap relevan dan membuka peluang bagi trader yang memperdagangkan **volatilitas** (tingkat naik-turun harga). Dengan data yang saling bertentangan—inflasi yang sulit turun dan pertumbuhan PDB mendekati nol—**implied volatility** (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada opsi **short-sterling** (produk derivatif suku bunga jangka pendek berbasis poundsterling) meningkat. Ini menunjukkan strategi yang berpotensi untung dari pergerakan tajam ke dua arah, bukan bertaruh pada satu arah saja, bisa lebih menarik dalam beberapa pekan ke depan.