Emas turun lebih dari 1,60% pada Selasa setelah dolar AS menguat karena kembali dicari sebagai aset aman, menyusul serangan defensif AS di Iran selatan yang dikaitkan dengan aktivitas di sekitar Selat Hormuz. XAU/USD turun di bawah $4.500 setelah sempat menyentuh tertinggi harian $4.580, sementara Indeks Dolar AS naik 0,17% ke 99,17 dan saham AS memangkas kenaikan sebelumnya. Harga minyak melanjutkan penurunan, dengan WTI turun 2,75% ke $94,34 per barel, dan imbal hasil (yield) Treasury AS tenor dua tahun—obligasi pemerintah AS yang sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga—turun hampir empat basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) ke 4,074%.
Penetapan harga suku bunga (rates pricing; perkiraan pasar uang atas arah suku bunga ke depan) menunjukkan pasar memberi peluang 58% The Fed akan menaikkan suku bunga hingga akhir tahun, sementara pertemuan Juni diperkirakan 99% menahan suku bunga pada rapat pertama Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed. Sentimen rumah tangga melemah, dengan Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board di 93,1 pada Mei dibanding perkiraan 92, dan dua pertiga responden melaporkan belanja turun karena harga lebih tinggi. Terpisah, Nikkei menyebut gencatan senjata diperpanjang 60 hari, dengan Iran membersihkan ranjau dalam 30 hari, disertai langkah terkait jalur pelayaran, biaya transit, perundingan nuklir, dan pelonggaran sanksi secara bertahap; perhatian kini beralih ke data perumahan AS, Pesanan Barang Tahan Lama (Durable Goods Orders; pesanan barang bernilai besar yang umurnya panjang seperti mesin dan kendaraan), pembacaan kedua PDB (GDP; produk domestik bruto) kuartal I 2026, data tenaga kerja, dan Core PCE (inflasi inti berbasis konsumsi pribadi, tidak memasukkan makanan dan energi, indikator inflasi favorit The Fed).
Kekuatan Dolar AS Menjadi Faktor Utama Pasar
Dalam situasi saat ini, kekuatan dolar AS menjadi faktor utama penggerak pasar, bahkan lebih dominan daripada aset aman tradisional seperti emas. Konflik di Selat Hormuz memicu peralihan ke likuiditas dan keamanan dolar, bukan ke emas. Dinamika ini menunjukkan bahwa untuk sementara, posisi yang diuntungkan (bullish; bertaruh harga naik) pada dolar menjadi pilihan utama pasar.
Kami mencermati hubungan berlawanan arah (inverse correlation; saat satu naik, yang lain cenderung turun) yang kuat antara Indeks Dolar (DXY) dan emas. Data historis CME Group menunjukkan korelasi ini sering berada di sekitar -0,5, artinya pergerakannya kerap berlawanan. Laporan Commitment of Traders (COT; laporan posisi transaksi pelaku pasar berjangka) dari CFTC (otoritas pengawas pasar derivatif AS) juga menunjukkan spekulan besar sudah mengurangi posisi net-long (posisi beli bersih; jumlah kontrak beli lebih besar daripada jual) pada kontrak berjangka (futures; kontrak jual-beli dengan harga dan tanggal tertentu di masa depan) emas sebelum eskalasi ini. Ini mengindikasikan arah yang paling mudah bagi emas saat ini adalah turun.
Volatilitas, Minyak, dan Strategi Menghadapi Inflasi
Kenaikan ketidakpastian pasar mendorong volatilitas tersirat (implied volatility; perkiraan pasar atas besar-kecilnya fluktuasi harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi) emas meningkat, dengan CBOE Gold Volatility Index (GVZ; indeks volatilitas untuk emas) naik ke 18,5, tertinggi dalam beberapa pekan. Kami menilai ini membuka peluang bagi pelaku derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) untuk membeli opsi jual (put option; hak untuk menjual aset pada harga tertentu) emas, menargetkan strike (harga pelaksanaan opsi) di dekat rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average; rata-rata harga 200 hari sebagai acuan tren) sekitar $4.387. Strategi ini memberi risiko yang terukur (defined-risk; maksimal rugi terbatas pada premi opsi) bila dolar terus menguat dan emas menembus level terendah terbaru.
Penurunan harga minyak yang tidak biasa juga menjadi faktor penting karena menekan ekspektasi inflasi menjelang rilis Core PCE. Badan Informasi Energi AS (EIA) sebelumnya menyatakan perubahan biaya energi yang bertahan lama berpengaruh besar pada inflasi utama (headline inflation; inflasi total). Pelonggaran tekanan harga sementara ini memberi The Fed lebih banyak ruang untuk menahan suku bunga, namun juga mengurangi permintaan emas sebagai lindung nilai inflasi (inflation hedge; aset yang dibeli untuk melindungi nilai saat inflasi naik).
Karena itu, kami bersiap menghadapi reaksi pasar yang besar terhadap laporan inflasi Core PCE mendatang. Angka yang lebih panas dari perkiraan (lebih tinggi) kemungkinan memperkuat dolar dan bisa mempercepat pelemahan emas menuju $4.300. Namun bila angkanya lebih rendah dari perkiraan, dolar bisa melemah dan memicu reli tajam dari aksi short-covering (penutupan posisi jual; pelaku yang bertaruh turun membeli kembali), sehingga emas kembali di atas $4.500.