Harga emas naik di Filipina pada Kamis, berdasarkan data FXStreet. Emas dihargai PHP 9.175,93 per gram, naik dari PHP 9.166,14 pada Rabu.
Harga per tola naik menjadi PHP 107.028,40 dari PHP 106.912,00 sehari sebelumnya. FXStreet juga mencatat harga PHP 91.763,14 untuk 10 gram dan PHP 285.416,10 per ons troy (satuan standar pasar emas internasional, sekitar 31,1035 gram).
Data Acuan Harga Emas
FXStreet mengonversi harga emas internasional ke PHP menggunakan kurs USD/PHP dan satuan ukur lokal. Angka diperbarui setiap hari saat publikasi dan hanya sebagai acuan, karena harga di pasar setempat bisa sedikit berbeda.
Bank sentral adalah pemegang emas terbesar. Menurut World Gold Council, bank sentral menambah 1.136 ton emas senilai sekitar US$70 miliar pada 2022, tertinggi sejak pencatatan dimulai.
Dalam kondisi saat ini, emas cenderung menguat sebagai aset “safe haven” (aset yang biasanya dicari saat pasar bergejolak) di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kenaikan terbaru mencerminkan kekhawatiran pasar yang lebih luas terkait memanasnya kembali friksi perdagangan dan masalah rantai pasok (alur pengadaan dan distribusi barang) di Asia Tenggara. Situasi ini mendorong investor beralih ke aset yang tidak bergantung pada kinerja satu pemerintah atau ekonomi tertentu.
Emas juga menjadi alat lindung nilai (hedging, cara mengurangi risiko) terhadap inflasi yang masih tinggi. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (U.S. Bureau of Labor Statistics) melaporkan inflasi April 2026 sebesar 3,6%, lebih tinggi dari perkiraan, sehingga memicu kekhawatiran tekanan harga belum mereda. Ini membuat aset berwujud seperti emas lebih menarik dibanding uang tunai, yang nilainya tergerus inflasi.
Pendorong Permintaan Emas
Permintaan institusi menjadi penopang harga saat ini. Laporan terbaru World Gold Council untuk kuartal I 2026 menyebut bank sentral membeli bersih 290 ton, awal tahun terkuat sejak 2013. Pembelian berkelanjutan dari pelaku besar ini menunjukkan strategi alokasi jangka panjang ke emas.
Selain itu, emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS (inverse relationship). Dalam beberapa pekan terakhir, dolar melemah. Pasar memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS) dapat memberi sinyal jeda dalam siklus kenaikan suku bunga, setelah data manufaktur yang lemah menunjukkan ekonomi mulai melambat. Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga umumnya mendorong harga naik.
Di pasar derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan), hal ini terlihat sebagai sentimen “bullish” (ekspektasi harga naik) dalam beberapa pekan ke depan. Terlihat kenaikan besar volume opsi call (kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu) untuk kontrak yang jatuh tempo Juni dan Juli 2026, dengan rasio call-to-put (perbandingan opsi beli vs opsi jual) kini 1,5, tertinggi tahun ini. Aktivitas ini menunjukkan pelaku pasar memasang posisi untuk kenaikan harga lanjutan.