Emas (XAU/USD) turun ke level terendah dalam lebih dari sepekan pada Jumat, diperdagangkan di dekat $4.545 dan turun 2,25%. Penurunan dipicu penguatan Dolar AS dan naiknya imbal hasil (yield) Treasury, sementara risiko inflasi dari kenaikan minyak mendukung ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi lebih lama.
Data inflasi AS pekan ini menunjukkan inflasi utama (headline, angka total termasuk pangan dan energi) 3,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada April, naik dari 3,3% pada Maret. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI, ukuran inflasi di tingkat produsen) naik 6% yoy pada April dari 4,3%, sementara Penjualan Ritel (Retail Sales, indikator belanja konsumen) naik 0,5% secara bulanan (month-on-month/mom).
Pasar menaikkan perkiraan pengetatan lanjutan The Fed (bank sentral AS), yang biasanya menekan emas karena emas tidak memberi imbal hasil (non-yielding, tidak ada “bunga” seperti obligasi). CME FedWatch Tool (alat yang memperkirakan peluang keputusan suku bunga dari harga kontrak berjangka Fed funds) menunjukkan peluang 45% kenaikan suku bunga pada rapat Desember, naik dari 33% sehari sebelumnya.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam satu tahun, dan Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) naik di atas 99,00, tertinggi sejak 8 April. Fokus geopolitik tetap pada mandeknya pembicaraan AS-Iran dan pertemuan puncak di Beijing antara Donald Trump dan Xi Jinping.
Secara teknikal, harga bertahan di bawah SMA 20 hari (Simple Moving Average, rata-rata pergerakan sederhana) di dekat $4.662 dan di bawah area resistensi (hambatan kenaikan) sekitar $4.814. Level support (tumpuan penurunan) disebut di dekat $4.510, lalu $4.350 dan $4.100, dengan resistensi juga di sekitar $5.000.