Indeks harga GDT (Global Dairy Trade, lelang produk susu global) Selandia Baru turun ke -3,4%, dari 0,1% pada pembaruan sebelumnya.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran dari kenaikan kecil menjadi penurunan secara keseluruhan pada indeks.
GDT Index Reverses Lower
Lelang Global Dairy Trade terbaru menunjukkan penurunan tajam 3,4% pada indeks harga, berbalik arah dari kondisi sebelumnya yang relatif stabil. Hasil ini mengindikasikan permintaan global melemah dan menjadi hambatan bagi ekonomi Selandia Baru. Dampaknya, dolar Selandia Baru (NZD) berpotensi tertekan.
Penurunan harga ini sejalan dengan data terbaru yang menunjukkan impor produk susu ke China—pasar utama—turun lebih dari 4% pada kuartal I 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, produksi susu di Eropa dan Amerika Serikat tetap kuat, sehingga pasokan menjadi berlebih (oversupply, kondisi ketika barang yang tersedia melebihi permintaan). Kombinasi permintaan lesu dan pasokan tinggi menjadi sinyal negatif bagi harga susu dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi pelaku pasar yang memperdagangkan derivatif mata uang (instrumen turunan, yaitu kontrak yang nilainya mengikuti pergerakan kurs), kondisi ini bisa menjadi peluang untuk mempertimbangkan posisi short pada NZD terhadap USD (bertaruh NZD melemah). Salah satu cara adalah membeli opsi put NZD/USD (kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu) dengan jatuh tempo Mei dan Juni 2026, untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan menembus level dukungan 0,6050 (support, area harga yang biasanya menahan penurunan). Pada kejadian serupa pada kuartal III 2025, dolar kiwi turun hampir 3 sen dalam sebulan berikutnya.
Di sisi komoditas, pelemahan ini akan langsung tercermin pada kontrak berjangka Whole Milk Powder/WMP (susu bubuk full cream) (futures, kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu pada tanggal mendatang). Tekanan jual lanjutan berpotensi terjadi, dan pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi bearish (strategi saat memperkirakan harga turun) di pasar futures susu NZX (bursa Selandia Baru). Pergerakan ini mirip dengan penurunan pada pertengahan 2024 yang juga dipicu kekhawatiran konsumsi China.
Perkembangan ini juga membuat prospek kebijakan moneter Reserve Bank of New Zealand (RBNZ, bank sentral Selandia Baru) menjadi lebih rumit. RBNZ menahan suku bunga untuk menekan inflasi, tetapi penurunan berkepanjangan pada pendapatan ekspor utama berpotensi mendorong bank sentral mengambil sikap lebih dovish (lebih cenderung melonggarkan kebijakan, misalnya membuka peluang penurunan suku bunga) pada paruh akhir tahun ini. Faktor ini memperkuat pandangan negatif terhadap NZD.