Indikator inflasi baru BoJ tembus target 2%, memicu spekulasi kenaikan suku bunga yen saat USD/JPY bertahan di sekitar 159

    by VT Markets
    /
    May 26, 2026

    Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) mengatakan indikator barunya untuk mengukur inflasi dasar, yang tidak memasukkan faktor sekali waktu dan faktor aturan/kebijakan (misalnya subsidi pendidikan serta subsidi terkait energi), naik menjadi 2,8% pada April, dari 2,5% pada Maret dan di atas target 2% BoJ. Sebagai perbandingan, ukuran CPI “core-core” (inflasi inti-inti, yaitu indeks harga konsumen yang tidak memasukkan faktor khusus) naik 2,2% pada April setelah naik 2,6% pada Maret, sementara angka CPI inti acuan pemerintah berada di 1,4% secara tahunan (year on year/yoy, dibandingkan periode yang sama tahun lalu), jauh di bawah ukuran yang lebih disukai BoJ.

    Di pasar, USD/JPY naik 0,05% ke 159,01 saat penulisan. BoJ, bank sentral Jepang dengan tujuan stabilitas harga sekitar inflasi 2%, menjalankan kebijakan moneter sangat longgar sejak 2013 lewat Quantitative and Qualitative Easing (pelonggaran kuantitatif dan kualitatif, yakni pembelian aset besar-besaran untuk menekan suku bunga dan mendorong ekonomi), lalu menambahkan suku bunga negatif (bunga di bawah nol) dan yield control (pengendalian imbal hasil) pada obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada 2016, sebelum menaikkan suku bunga pada Maret 2024. Yen melemah ketika perbedaan arah kebijakan (policy divergence, yaitu kebijakan suku bunga yang makin berbeda) dengan bank sentral lain melebar pada 2022 dan 2023, lalu sebagian berbalik pada 2024 setelah Jepang mulai keluar dari kebijakan super longgar.

    Implikasi untuk Bank of Japan dan Keputusan Kebijakan Mendatang

    Kami menilai data inflasi baru ini, yang menunjukkan inflasi inti 2,8%, sebagai sinyal bahwa tekanan harga yang mendasar lebih kuat daripada yang terlihat pada data resmi. Ini menambah tekanan pada BoJ untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lagi guna menopang yen dan mengendalikan inflasi. Karena itu, kami mencermati rapat kebijakan 14 Juni untuk melihat perubahan nada atau langkah.

    Reaksi Pasar dan Strategi Transaksi di Tengah Perbedaan Kebijakan

    Dengan yen diperdagangkan di sekitar 159 per dolar, risiko kejutan “hawkish” dari BoJ (hawkish, cenderung lebih ketat/lebih pro-kenaikan suku bunga) atau intervensi langsung dari Kementerian Keuangan meningkat. Kami memperkirakan implied volatility (perkiraan volatilitas tersirat dari harga opsi, sering dipakai untuk membaca ekspektasi gejolak harga) pada opsi USD/JPY akan naik dalam beberapa pekan ke depan ketika pelaku pasar memasang skenario yang lebih beragam. Membeli opsi call yen (hak membeli yen pada harga tertentu) atau opsi put USD/JPY (hak menjual USD/JPY pada harga tertentu) bisa menjadi cara untuk lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) atau berspekulasi atas penguatan yen yang mendadak.

    Perbedaan kebijakan dengan Amerika Serikat masih besar, karena suku bunga acuan Federal Reserve (bank sentral AS) saat ini bertahan di 3,75%. Selisih suku bunga yang lebar ini terus mendorong carry trade (strategi meminjam mata uang berbunga rendah seperti yen untuk membeli aset berbunga lebih tinggi seperti dolar). Strategi ini kemungkinan berlanjut sampai BoJ memberi sinyal tindakan yang lebih agresif, sehingga tekanan terhadap yen tetap ada.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code