Jane Foley dari Rabobank mengatakan kehati-hatian Ueda di IMF meredakan sikap hawkish sebelumnya, memicu keraguan atas kenaikan suku bunga BoJ pada April

    by VT Markets
    /
    Apr 20, 2026

    Komentar Gubernur Ueda pada awal tahun sempat mengarah pada kebijakan yang lebih ketat (kenaikan suku bunga atau pengurangan stimulus), tetapi pernyataannya di pertemuan IMF di Washington lebih hati-hati. Perubahan nada ini membuat sebagian peramal mempertanyakan apakah Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) akan menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan 28 April.

    Survei Reuters menemukan bahwa 2/3 pengamat BoJ memperkirakan kenaikan suku bunga paling lambat akhir Juni. Survei itu juga menunjukkan peluang kenaikan pada April atau Juni dinilai kurang lebih sama.

    Data Domestik dan Sinyal Kebijakan

    Data domestik terbaru menunjukkan upah riil (upah setelah memperhitungkan inflasi, yakni daya beli) Februari naik 1,9% dibanding setahun sebelumnya, menjadi kenaikan bulanan kedua berturut-turut. Angka ini dipantau sebagai tanda permintaan dalam negeri yang makin kuat.

    Data inflasi nasional Jepang (CPI/Indeks Harga Konsumen, ukuran kenaikan harga barang dan jasa) untuk Maret akan dirilis pada 24 April. Rilis ini diperkirakan dipantau ketat oleh pembuat kebijakan untuk menentukan arah kebijakan dalam waktu dekat.

    Nada hati-hati Gubernur Ueda pada pertemuan IMF terbaru membuat prospek kenaikan suku bunga April menjadi kurang jelas. Ini menggeser ekspektasi, sehingga rapat kebijakan Juni kini dipandang sama mungkin untuk menjadi momen BoJ bergerak. Ketidakpastian yang meningkat ini menciptakan peluang di pasar derivatif (instrumen turunan, yaitu produk keuangan yang nilainya mengikuti aset lain seperti kurs atau suku bunga).

    Keraguan tersebut tercermin pada opsi yen, terlihat dari volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besarnya naik-turun harga ke depan yang dihitung dari harga opsi) tenor satu bulan pada USD/JPY yang naik ke 11,5% dari sekitar 9,0% hanya beberapa minggu lalu. Ini menunjukkan pasar bersiap menghadapi pergerakan yen yang besar, terlepas apakah BoJ bertindak pada 28 April atau tidak. Trader perlu mengantisipasi volatilitas yang tetap tinggi hingga rapat kebijakan mendatang.

    Strategi Volatilitas Menjelang Pemicu Utama

    Perhatian tertuju pada data CPI nasional yang akan dirilis Jumat ini, 24 April. Fokus utama adalah inflasi inti (core inflation, inflasi yang biasanya tidak memasukkan harga yang sangat bergejolak seperti makanan segar dan energi agar tren lebih jelas), yang diperkirakan mencapai 2,7%, untuk melihat apakah ini mengonfirmasi kekuatan yang terlihat pada pertumbuhan upah riil Februari 1,9%. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan akan kembali membuka peluang kenaikan suku bunga pada April.

    Karena itu, membeli volatilitas melalui instrumen seperti straddle atau strangle USD/JPY untuk jatuh tempo akhir April dapat menjadi strategi yang lebih hati-hati. Straddle adalah membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) pada harga kesepakatan yang sama; strangle serupa tetapi memakai dua harga kesepakatan berbeda. Strategi ini berpotensi untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah tanpa harus menebak keputusan BoJ. Jika data CPI sangat kuat, strategi yang lebih searah (directional), seperti membeli opsi call yen (hak untuk membeli yen pada harga tertentu, sehingga diuntungkan bila yen menguat), bisa menjadi lebih menarik.

    Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code