Won Korea diperdagangkan di bawah 1.500, dan pergerakan jangka dekat bergantung pada perkembangan di Timur Tengah. Kisaran transaksi 1.450–1.550 masih berlaku.
Jika perang berakhir, won diperkirakan menguat cepat. Pelemahan won belakangan ini terutama terkait aksi jual bersih (net sell) investor asing di saham Korea, yang disebut sebagai ambil untung (profit taking), bukan jual panik (panic selling).
Nilai valuasi saham Korea dinilai menarik dan diperkirakan membantu menstabilkan won.
Kurs USD/KRW saat ini diperdagangkan di bawah 1.500. Kami memperkirakan won akan bertahan dalam kisaran lebar 1.450 hingga 1.550 untuk waktu dekat. Pandangan ini didasarkan pada ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Pergerakan besar kemungkinan bergantung pada perkembangan di sana. Risiko yang berlanjut membuat harga minyak Brent (patokan global harga minyak) bergejolak, terakhir di sekitar US$92 per barel, yang langsung berdampak pada negara pengimpor energi seperti Korea Selatan. Tekanan eksternal ini menjadi faktor utama yang menahan won untuk menguat.
Ini mengarah pada strategi yang diuntungkan jika terjadi lonjakan harga yang mendadak dan besar, karena penguatan KRW yang cepat diperkirakan terjadi jika konflik berakhir. Struktur opsi seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual pada harga kesepakatan/strike yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke dua arah) dapat digunakan untuk menangkap penembusan (breakout) dari kisaran saat ini. Volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan gejolak harga yang “tercermin” dalam harga opsi) pada opsi USD/KRW naik lebih dari 5% dalam sebulan terakhir, menunjukkan pasar memperhitungkan potensi pergerakan.
Kami menilai pelemahan won baru-baru ini juga didorong investor asing yang mengambil untung dari saham. Melihat ke belakang, pola arus keluar (outflows, dana asing keluar dari pasar) serupa terjadi saat ketidakpastian global pada 2025. Namun, dengan indeks KOSPI diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio/PER, ukuran valuasi saham) sekitar 11 yang dinilai menarik, modal asing berpotensi kembali dan membentuk batas bawah (floor, penahan penurunan) bagi mata uang.
Bagi yang memperkirakan kebuntuan berlanjut, strategi transaksi dalam kisaran (range trading, memanfaatkan pergerakan bolak-balik dalam batas tertentu) dapat dipertimbangkan. Ini bisa mencakup menjual opsi pada harga strike di luar rentang 1.450–1.550. Namun perlu dicatat, pendekatan ini berisiko besar jika de-eskalasi mendadak (penurunan ketegangan secara cepat) membuat won menembus batas bawah kisaran tersebut.
Kami melihat sentimen bisa berubah cepat, mirip saat siklus kenaikan suku bunga global beberapa tahun lalu. Bank of Korea menahan suku bunga acuan (policy rate, suku bunga utama bank sentral) tetap di 3,50% selama lebih dari satu tahun, yang memberi stabilitas dari dalam negeri. Kebijakan ini berbeda dengan langkah di negara lain dan kemungkinan membuat won tetap sensitif terhadap arus berita dari luar untuk sementara waktu.