Kepercayaan konsumen AS, yang diukur oleh Conference Board, turun tipis ke 93,1 pada Mei dari 93,8 pada April (angka April direvisi naik). Angka ini dibandingkan dengan proyeksi TD sebesar 90,5 dan perkiraan konsensus 92,0. Indikator ini belakangan bergerak berbeda dari ukuran sentimen lain seperti UMich (survei kepercayaan konsumen Universitas Michigan) dan Morning Consult. Konflik yang melibatkan Iran serta harga bensin yang tinggi disebut berpotensi menekan indeks.
Dalam survei tersebut, *labour differential* (selisih penilaian konsumen antara “lowongan kerja banyak” dan “sulit mendapat kerja”, sering dipakai sebagai sinyal kondisi pasar tenaga kerja) turun ke 6,9, sejalan dengan ekspektasi mencari kerja yang melemah dalam survei NY Fed (Federal Reserve New York). Rencana pembelian melemah dan ekspektasi inflasi tetap tinggi. Jawaban terbuka (responden menulis sendiri) makin bernada negatif: rujukan ke harga, minyak, dan bensin lebih sering muncul untuk bulan kedua berturut-turut, sementara penyebutan perang, geopolitik, dan konflik tetap tinggi. Ini mencerminkan kekhawatiran dampak inflasi yang terkait situasi Timur Tengah.
Risiko Naik bagi Konsumen dan Volatilitas Pasar
Kami melihat angka utama kepercayaan konsumen masih lebih baik dari perkiraan untuk saat ini, tetapi rincian laporan memberi sinyal kondisi yang jauh lebih lemah dalam beberapa pekan ke depan. Kesenjangan antara sentimen utama dan rencana belanja konsumen menunjukkan risiko yang meningkat bagi ekonomi. Kondisi seperti ini sering menjadi lingkungan yang mendukung kenaikan volatilitas pasar (naik-turunnya harga aset yang makin tajam).
Konsumen tertekan oleh inflasi, terutama saat membeli bahan bakar. AAA melaporkan rata-rata harga bensin nasional baru mencapai US$3,95 per galon, level psikologis yang langsung memukul anggaran rumah tangga. Ini kemungkinan menjadi alasan melemahnya rencana pembelian barang bernilai besar dalam survei.
Konflik yang berlangsung di Iran menambah ketidakpastian yang menurut kami belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar. Laporan terbaru soal gangguan pengiriman di Selat Hormuz meningkatkan risiko geopolitik (risiko akibat ketegangan antarnegara yang bisa mengguncang ekonomi dan pasar). Ini membuat strategi membeli proteksi layak dipertimbangkan, karena VIX (indeks “ketakutan” yang mencerminkan perkiraan volatilitas pasar saham AS) naik perlahan dari level rendah sekitar 14 menjadi di atas 17 bulan ini.
Posisi Pasar: Risiko Sektor dan Potensi Lindung Nilai
Melihat turunnya niat belanja, kami menyoroti posisi *bearish* (posisi yang diuntungkan jika harga turun) pada sektor barang konsumsi non-primer (*consumer discretionary*, seperti ritel, perjalanan, dan hiburan). ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa, mengikuti indeks/kelompok saham tertentu) yang melacak perusahaan sensitif terhadap belanja konsumen terlihat paling rentan. Membeli *put option* (hak untuk menjual aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo, biasanya dipakai sebagai proteksi atau untuk mendapat untung saat harga turun) pada aset-aset ini bisa menjadi cara yang relatif efisien untuk mengantisipasi penurunan belanja.
Pasar tenaga kerja juga memberi sinyal waspada, dengan *labour differential* turun ke 6,9. Tren ini sejalan dengan data JOLTS (laporan lowongan kerja dan perputaran tenaga kerja AS) yang menunjukkan pendinginan berlanjut, dengan lowongan turun ke level terendah dalam hampir dua tahun. Pasar kerja yang melemah akan menambah tekanan pada konsumen.