Pembicaraan AS–Iran mandek setelah Teheran menolak diskusi lanjutan, dan putaran kedua tidak jadi digelar. Amerika Serikat memperpanjang tenggat gencatan senjata, sehingga gencatan sementara tetap berlaku sampai pembicaraan resmi dinyatakan selesai.
AS terus memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menghentikan pengiriman minyak. Situasi ini digambarkan sebagai kebuntuan berkepanjangan, dengan blokade dipakai sebagai alat tekanan dan disertai risiko eskalasi militer lebih lanjut.
Dampak Pasar dan Fokus Minyak
Pasar menghadapi risiko gangguan berkelanjutan terhadap arus energi melalui Selat Hormuz. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni diperdagangkan di sekitar USD100 per barel.
Pasar makro secara lebih luas relatif stabil. Indeks Dolar AS (DXY)—indikator nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—berada di sekitar 98,4, dan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun—bunga obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sering jadi acuan pasar—mendekati 4,3%.
Artikel tersebut menyebut dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), lalu ditinjau editor.
Melihat kembali kebuntuan panjang AS–Iran pada 2025, terlihat perbedaan jelas dalam reaksi pasar. Saat blokade pelabuhan Iran mendorong Brent menuju USD100, pasar yang lebih luas seperti Indeks Dolar AS justru tetap tenang. Ini menunjukkan tidak semua krisis geopolitik memicu “flight to safety” (perpindahan dana besar-besaran ke aset aman), sehingga muncul peluang transaksi yang lebih spesifik dan terisolasi.
Panduan Opsi dan Volatilitas
Ini menjadi panduan untuk memperdagangkan ketegangan yang terutama berdampak pada energi. Karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia masih melintasi Selat Hormuz, setiap ketegangan baru membuka peluang membeli call option (opsi beli, yaitu hak untuk membeli pada harga tertentu) jangka sangat pendek (front-month, kontrak bulan terdekat) pada futures (kontrak berjangka) Brent atau WTI (West Texas Intermediate, patokan minyak AS). Dalam kejadian serupa sebelumnya, CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX)—indeks yang mengukur perkiraan gejolak harga minyak lewat harga opsi—pernah melonjak di atas 50, sehingga strategi long volatility (bertaruh volatilitas akan naik, misalnya lewat beli opsi) menjadi langkah yang langsung dan efektif.
Pelajaran utama dari 2025 adalah ketakutan pasar yang “terkendali”, karena S&P 500 Volatility Index (VIX)—indeks volatilitas pasar saham AS berdasarkan opsi indeks S&P 500—bertahan di bawah 20 meski harga minyak memanas. Ini mengarah pada relative value trade (strategi memanfaatkan perbedaan penilaian): long volatilitas minyak sambil menjual volatilitas S&P 500 melalui VIX futures atau option spreads (kombinasi beberapa opsi untuk membentuk profil untung-rugi tertentu). Strategi ini diuntungkan dari perbedaan pergerakan tersebut, dengan memusatkan premi risiko terutama ke sektor energi.
Stabilnya yield US 10 tahun dan DXY pada periode itu juga memberi pandangan penting. Pasar obligasi tidak langsung memasukkan skenario ancaman inflasi besar atau guncangan pertumbuhan global, dan melihat kebuntuan tersebut sebagai masalah pasokan yang masih bisa dikelola. Dalam beberapa pekan ke depan, ini menyarankan kehati-hatian untuk otomatis membeli dolar AS sebagai aset aman, kecuali konflik menunjukkan tanda eskalasi yang jelas melampaui sengketa energi regional.