Emas (XAU/USD) bertahan di atas $4.700 pada paruh pertama sesi Eropa hari Senin, tetapi sulit melanjutkan kenaikan tipis harian. Iran dikabarkan mengajukan proposal baru kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sementara pembicaraan nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Kabar ini menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga pasar masih membuka peluang setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (0,25 poin persentase) pada 2026. Hal itu mendukung emas yang tidak memberikan imbal hasil (aset yang tidak membayar bunga seperti obligasi), meski kenaikan lanjutan terbatas karena pelaku pasar tetap berhati-hati.
Risiko Geopolitik Tetap Tinggi
Arus lalu lintas melalui Selat Hormuz masih banyak terhambat karena pembatasan pergerakan oleh Iran dan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran. Perdana Menteri Israel mengatakan ia memerintahkan serangan ke target Hizbullah di Lebanon, sehingga risiko geopolitik tetap menjadi perhatian.
Pasar juga tetap waspada menjelang rapat FOMC (komite pembuat kebijakan suku bunga The Fed) selama dua hari yang dimulai Selasa, dengan fokus pada inflasi dan aktivitas ekonomi AS. Perkembangan situasi AS-Iran juga diperkirakan memicu volatilitas (ayunan harga yang cepat) tambahan.
Di pasar fisik, premi emas India naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua setengah bulan akibat pasokan ketat. Premi di China berada di $9 hingga $12 per ons, naik dari $3 hingga $6 pada pekan sebelumnya.
Pergerakan emas cenderung mendatar sejak awal bulan setelah memantul dari SMA 200 hari (rata-rata pergerakan 200 hari, indikator tren jangka panjang) yang diuji pada Maret; RSI (indikator kekuatan tren) berada di sekitar 47 dan MACD (indikator momentum/perubahan arah tren) menunjukkan sinyal positif kecil. Support (area harga penopang) berada di $4.650-$4.645, sedangkan resistance (area harga penghambat) terlihat di $4.750, $4.800, dan $4.860-$4.865, lalu $5.000 di atasnya.
Pendekatan Trading Untuk Pasar yang Bergerak dalam Rentang
Dengan sinyal yang saling bertentangan, peluang lebih terlihat pada volatilitas ketimbang bertaruh pada satu arah. Potensi kesepakatan damai AS-Iran memberi tekanan turun pada dolar, tetapi blokade Selat Hormuz dan aksi militer Israel menjaga premi risiko geopolitik (tambahan harga karena ketidakpastian) tetap ada. Pola serupa terlihat pada akhir 2025, ketika rumor damai awal memicu penurunan tajam namun sementara pada aset safe haven (aset lindung nilai saat krisis) sebelum kondisi sebenarnya menahan pergerakan.