Minyak mentah WTI naik mendekati US$93 per barel seiring pembatasan di Selat Hormuz diperketat dan gencatan senjata rapuh Iran makin tertekan

    by VT Markets
    /
    Apr 10, 2026

    Harga minyak naik untuk hari kedua pada Jumat, dengan minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$93,00 per barel. Pergerakan kapal melalui Selat Hormuz masih dibatasi, sehingga secara факto menjadi blokade (penutupan jalur tanpa deklarasi resmi) dan menambah tekanan pada gencatan senjata Iran yang rapuh (kesepakatan berhenti tembak yang mudah runtuh).

    Data Hormuz Strait Monitor menunjukkan 12 kapal melintasi jalur perairan itu dalam 24 jam terakhir, dibandingkan hingga 140 kapal per hari sebelum perang. Presiden AS menyebut pengelolaan Selat oleh otoritas Iran buruk dan menulis di Truth Social (platform media sosial), “Itu bukan kesepakatan yang kita miliki”.

    Pembicaraan Damai Masih Tidak Pasti

    Pembicaraan damai AS–Iran, yang diperkirakan dimulai pada Sabtu, masih belum pasti. Teheran mengatakan tidak akan ikut negosiasi sampai Israel menghentikan serangan ke Lebanon.

    Israel mengatakan telah mengizinkan pembicaraan langsung dengan otoritas Lebanon, namun menegaskan operasi melawan Hizbullah akan berlanjut. Iran memperingatkan akan ada respons keras jika serangan berlanjut, dan Hizbullah dilaporkan menembakkan rudal ke Israel.

    Perhatian pasar juga tertuju pada Indeks Harga Konsumen AS (CPI, ukuran inflasi/kenaikan harga barang dan jasa) yang dirilis pada Jumat. Tekanan harga diperkirakan naik di atas target 2% Federal Reserve (bank sentral AS), sehingga meningkatkan ekspektasi setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini.

    Koreksi yang diterbitkan pada 10 April pukul 10:15 GMT menyebut pembicaraan diperkirakan dimulai pada Sabtu, bukan Selasa.

    Fokus Pasar Beralih ke Volatilitas

    Menengok periode yang sama tahun lalu, harga WTI sempat bergerak mendekati US$93 per barel akibat pembatasan berat di Selat Hormuz. Gagalnya pembicaraan damai AS–Iran serta meningkatnya konflik Israel–Hizbullah memunculkan premi risiko pasokan (tambahan harga karena kekhawatiran pasokan terganggu). Ini memicu periode volatil (gejolak harga yang naik-turun tajam) yang masih terasa hingga kini.

    Situasi memang memburuk sepanjang musim panas 2025, ketika blokade selat makin ketat dan mendorong harga minyak melampaui US$115 pada kuartal ketiga. Meski lalu lintas Selat Hormuz sudah pulih sebagian, data awal April 2026 menunjukkan trafik masih sekitar 65% dari level sebelum perang, rata-rata 90 kapal per hari. Sumbatan yang bertahan ini membuat rantai pasok rapuh (alur pasokan mudah terganggu) dan harga sensitif terhadap kabar kawasan.

    Saat ini, dengan WTI bertahan di sekitar US$105 per barel, volatilitas tersirat pada opsi minyak (perkiraan gejolak harga yang dihitung dari harga opsi) tetap tinggi. CBOE Crude Oil Volatility Index/OVX (indeks yang mengukur perkiraan volatilitas harga minyak dari pasar opsi) berada di sekitar 42, mencerminkan ketidakpastian besar terkait risiko gangguan pasokan. Volatilitas tinggi membuat premi opsi mahal (biaya membeli opsi), sekaligus mengindikasikan potensi pergerakan harga besar dalam beberapa pekan ke depan.

    Dalam kondisi ini, pelaku pasar terlihat mengambil posisi untuk risiko kenaikan lebih lanjut dengan membeli opsi call jatuh tempo panjang (hak membeli pada harga tertentu di masa depan) atau menggunakan call spread (strategi gabungan: membeli call dan menjual call lain untuk menekan biaya) pada kontrak berjangka WTI dan Brent (futures/kontrak berjangka: perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk tanggal mendatang). Eskalasi baru di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga lagi mendekati puncak 2025. Posisi ini memberi eksposur pada potensi itu sambil membatasi risiko maksimum.

    Di sisi lain, permintaan juga perlu diperhitungkan dan telah berubah sejak tahun lalu. Angka CPI AS yang tinggi pada April 2025 memang mendorong The Fed melakukan satu kenaikan suku bunga terakhir pada Juli 2025. Kini, data ekonomi kuartal I-2026 menunjukkan perlambatan pertumbuhan global, memicu kekhawatiran “demand destruction” (permintaan melemah karena harga tinggi atau ekonomi melambat).

    Ini menciptakan tarik-menarik antara risiko pasokan yang mendorong harga naik dan kekhawatiran permintaan yang menekan harga. Karena itu, strategi yang lebih hati-hati adalah melakukan lindung nilai (hedging: mengurangi risiko) atas posisi beli dengan opsi put (hak menjual pada harga tertentu) untuk melindungi dari penurunan mendadak akibat ketakutan resesi. Pasar saat ini memperkirakan peluang 40% The Fed memangkas suku bunga sebelum akhir tahun, berbanding terbalik dengan kecenderungan pengetatan (kebijakan menaikkan suku bunga) pada periode yang sama tahun lalu.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code