NZD/USD diperdagangkan di dekat 0,5920 pada Kamis saat penulisan, turun 0,28% pada hari itu. Dolar Selandia Baru melemah terhadap Dolar AS yang lebih kuat setelah data AS mendukung ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.
Dolar AS terbantu oleh komentar pejabat Gedung Putih yang menyebut pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sebagai positif. Pembicaraan mencakup kerja sama ekonomi, akses lebih luas bagi bisnis AS di China, peningkatan investasi China di Amerika Serikat, serta kesepakatan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
Dolar Selandia Baru juga tertekan oleh kekhawatiran terhadap prospek domestik. Survei triwulanan Bank Sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) menunjukkan ekspektasi inflasi, suku bunga, dan pengangguran meningkat, sementara ekspektasi pertumbuhan melemah.
Data AS pada Kamis juga mendukung Dolar AS. Penjualan Ritel (Retail Sales), yaitu ukuran belanja konsumen, naik 0,5% pada April sesuai perkiraan, sementara Klaim Awal Pengangguran (Initial Jobless Claims), yaitu jumlah pendaftar baru tunjangan pengangguran, naik menjadi 211 ribu dari 199 ribu.
Perkiraan pasar kini bergeser ke arah lebih sedikit pemangkasan suku bunga tahun ini. Sebagian pelaku pasar bahkan mulai memasukkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, yang mendukung Dolar AS dan menekan NZD/USD.
Menengok kembali sentimen pasar pada 2025, NZD/USD tertekan oleh Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) yang cenderung agresif menaikkan suku bunga (hawkish) dan kondisi domestik Selandia Baru yang lemah. Saat itu, data AS yang kuat dan perkembangan geopolitik yang lebih baik mendorong ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lama di AS. Lingkungan ini menguntungkan Dolar AS dan membuat posisi jual (shorting), yaitu bertaruh harga akan turun, terhadap dolar “Kiwi” menjadi strategi yang mudah.
Kini situasi berubah besar, karena narasi The Fed yang akan terus ketat berubah. Indeks Harga Konsumen AS (Consumer Price Index/CPI), yaitu ukuran inflasi dari perubahan harga barang dan jasa, untuk April 2026 tercatat 2,8%. Ini menjadi bulan ketiga berturut-turut inflasi melambat dan membuat pasar memasukkan peluang pemangkasan suku bunga. CME FedWatch Tool, yaitu indikator berbasis harga kontrak berjangka yang memperkirakan peluang keputusan suku bunga The Fed, kini menunjukkan probabilitas lebih dari 70% untuk pemangkasan pertama pada rapat September 2026, berbanding terbalik dengan pembahasan kenaikan suku bunga tahun lalu.
Sementara itu, kondisi ekonomi Selandia Baru lebih tahan, meski tantangan masih ada. Inflasi kuartal I 2026 di Selandia Baru tetap tinggi di 4,5%, sehingga RBNZ memberi sinyal Official Cash Rate (OCR), yaitu suku bunga acuan utama Selandia Baru, akan tetap tinggi hingga sisa tahun ini. Perbedaan arah kebijakan (policy divergence), yaitu ketika bank sentral mengambil langkah berbeda—The Fed cenderung melonggarkan (easing) sementara RBNZ bertahan—menciptakan lanskap perdagangan yang berbeda.
Perbedaan ini memberi dukungan dasar bagi Dolar Selandia Baru terhadap Dolar AS (Greenback, sebutan umum untuk Dolar AS). Ekonomi AS menunjukkan tanda melambat, dengan laporan Non-Farm Payrolls (NFP), yaitu data bulanan penambahan lapangan kerja di luar sektor pertanian, menunjukkan penciptaan pekerjaan melambat menjadi 180 ribu. Sementara itu, harga ekspor utama Selandia Baru yaitu produk susu juga menguat 5% pada kuartal terakhir. Faktor-faktor ini mendorong potensi pembalikan tren yang terlihat pada 2025.