Perak Menguat Menembus US$77 ke Level Tertinggi Sepekan, Didukung Pelemahan Dolar Usai Pengumuman Gencatan Senjata AS-Iran

    by VT Markets
    /
    Apr 8, 2026

    Perak naik ke level tertinggi baru dalam sepekan pada perdagangan Asia Rabu, menembus US$77,00 seiring Dolar AS melemah secara luas. Pergerakan ini mendukung komoditas yang dihargai dalam dolar, termasuk XAG/USD (harga perak terhadap dolar AS).

    Pada Selasa, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunda rencana serangan militer ke Iran selama dua pekan, jika Teheran membuka kembali sepenuhnya Selat Hormuz. Iran menyatakan menerima gencatan senjata dua pekan, dengan pembicaraan dijadwalkan dimulai Jumat di Islamabad, Pakistan.

    Reaksi Pasar atas Perkembangan Hormuz

    Menteri luar negeri Iran mengatakan jalur pelayaran aman di Selat Hormuz akan tersedia selama dua pekan, yang mendorong harga minyak mentah turun. Turunnya harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang dan jasa) dan menurunkan perkiraan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (bank sentral AS), sehingga menekan Dolar dan mendukung perak.

    Laporan itu mencatat minimnya pembelian lanjutan, yang dapat membatasi kenaikan lebih jauh dalam jangka dekat. Perak adalah aset tanpa imbal hasil (tidak memberi bunga/kupon), dan sering diuntungkan saat ekspektasi suku bunga turun.

    Secara lebih luas, harga perak bisa dipengaruhi oleh geopolitik (risiko politik dan konflik antarnegara), kekhawatiran resesi (perlambatan ekonomi), pergerakan Dolar AS, permintaan dari exchange-traded fund/ETF (produk investasi yang diperdagangkan di bursa dan mengikuti harga aset), pasokan tambang, serta daur ulang. Penggunaan industri di elektronik dan tenaga surya dapat mengubah permintaan, dan perak sering bergerak mengikuti emas. Rasio emas/perak (gold/silver ratio) digunakan untuk membandingkan nilai relatif keduanya.

    Membandingkan Kondisi Saat Ini dengan Tahun Lalu

    Berbeda dengan meredanya ketegangan diplomatik tahun lalu, saat ini Dolar AS lebih kuat, dengan indeks DXY (indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan di atas 106 di tengah ketidakpastian geopolitik di wilayah lain. The Fed mengisyaratkan kebijakan suku bunga “lebih tinggi lebih lama” untuk menahan inflasi inti (inflasi yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak), yang menurut laporan CPI terbaru (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) masih di sekitar 3,1%. Kebijakan “hawkish” (cenderung menaikkan/menahan suku bunga ketat untuk menekan inflasi) ini menopang dolar dan biasanya menjadi hambatan bagi perak.

    Meski lingkungan suku bunga menantang, permintaan industri perak tetap kuat. Pemasangan panel surya global naik 15% dibanding tahun lalu, menurut laporan terbaru International Energy Agency/IEA (Badan Energi Internasional), dan permintaan dari sektor kendaraan listrik juga melampaui perkiraan. Konsumsi yang kuat ini membantu membentuk batas bawah harga (level penopang) yang tidak sebesar itu tahun lalu.

    Rasio emas/perak menjadi indikator kunci, dan saat ini bergerak dekat level tertinggi dua tahun di 88:1. Secara historis, rasio di atas 85 sering mendahului periode ketika perak mulai mengungguli emas secara signifikan. Ini mengisyaratkan perak bisa relatif murah dibanding emas, sehingga membuka peluang strategi pasangan (pair trade: mengambil posisi beli di satu aset dan jual di aset lain untuk memanfaatkan selisih kinerja) atau posisi beli langsung (long: untung jika harga naik) di perak.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code