Sterling melemah setelah sebelumnya menguat, seiring meningkatnya desakan agar Perdana Menteri Keir Starmer mundur. Pasar taruhan menilai peluangnya tinggi bahwa ia akan lengser tahun ini.
Premi risiko politik kecil mulai terlihat pada EUR/GBP, sejalan dengan naiknya ketidakpastian politik di Inggris. Estimasi model menilai ini setara sekitar 0,3% “overvalued” (nilai tukar dinilai terlalu tinggi dibanding nilai wajar) dalam jangka pendek.
Perhatian pasar bergeser ke calon pengganti pemimpin, yang bisa menambah tekanan pada sterling. Laporan terbaru menyebut Andy Burnham mungkin akan mengejar kursi di parlemen untuk memperkuat peluang maju dalam perebutan kepemimpinan.
Sterling juga tertekan karena kekhawatiran atas usulan meninggalkan aturan fiskal. Aturan fiskal adalah batasan kebijakan anggaran—misalnya target utang atau defisit—untuk menjaga belanja dan pinjaman pemerintah tetap disiplin. Isu ini memunculkan pertanyaan soal kredibilitas kebijakan anggaran dan kerangka pengelolaan keuangan publik Inggris.
Kami mengingat premi risiko politik sempat muncul pada pound saat gejolak pergantian pemimpin pada 2025. Kekhawatiran awal itu terbukti, karena pergantian pemimpin berikutnya membuat sterling tetap sulit menguat. Kini, ketika pound melemah terhadap euro dan dolar, fokus pasar tertuju pada kredibilitas anggaran pemerintah baru.
Peringatan tahun lalu soal rencana meninggalkan aturan fiskal sebagian mulai terjadi di pemerintahan baru. Saat Perdana Menteri Burnham mulai menjalankan pemerintahan, imbal hasil gilt 10 tahun (gilt adalah obligasi pemerintah Inggris; imbal hasil adalah tingkat keuntungan/biaya pinjaman yang diminta pasar) tetap tinggi, bertahan di sekitar 4,5%. Angka ini naik dibanding level di bawah 4% sebelum tekanan perebutan kepemimpinan membesar. Ini menunjukkan pasar obligasi masih meminta “premi” tambahan sebagai kompensasi atas ketidakpastian keuangan publik Inggris.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi untuk kelanjutan pelemahan sterling, terutama terhadap dolar. Karena GBP/USD sulit bertahan menguat di atas 1,22, membeli opsi put (kontrak derivatif yang memberi hak menjual pada harga tertentu; umumnya untung saat harga turun) bisa menjadi lindung nilai jika terjadi penurunan lebih jauh. Strategi ini membatasi risiko pada premi yang dibayar, sambil memberi peluang untung bila kekhawatiran atas arah kebijakan anggaran Inggris meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Volatilitas tersirat pada pasangan sterling juga naik, mencerminkan ketidakpastian politik. Volatilitas tersirat adalah perkiraan besar-kecilnya pergerakan harga yang “dibaca” dari harga opsi. Volatilitas tersirat 3 bulan untuk GBP/USD kini sekitar 8,2%, naik dari sekitar 6,5% pada periode yang lebih tenang tahun lalu. Kondisi ini membuat strategi menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga pelaksanaan di atas harga pasar saat ini; biasanya dipakai untuk mengincar premi jika harga tidak naik jauh) menarik untuk mengantongi premi, dengan pandangan bahwa penguatan pound kemungkinan tidak bertahan lama.
Ke depan, kami mencermati pratinjau Autumn Statement dari Menteri Keuangan untuk sinyal arah prioritas belanja. Autumn Statement adalah pernyataan kebijakan anggaran pemerintah yang biasanya memuat pembaruan rencana pajak, belanja, dan proyeksi fiskal. Sinyal jelas bahwa pemerintah akan menjauh dari “jangkar fiskal” (patokan disiplin anggaran, seperti target defisit/utang) berpotensi memicu pergerakan besar berikutnya pada pound.