GBP/JPY naik untuk hari keenam berturut-turut pada Senin, diperdagangkan di sekitar 214,87, level tertinggi sejak 4 Februari. Kenaikan ini mengikuti pelemahan Yen lebih lanjut ketika harga minyak tetap tinggi.
Harga minyak mentah yang lebih tinggi memicu kekhawatiran atas neraca perdagangan Jepang (selisih nilai ekspor dan impor) karena negara itu bergantung pada impor energi. Ketegangan di Timur Tengah membuat risiko gangguan pasokan tetap menjadi perhatian.
Pelemahan Yen Dipicu Minyak
Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade laut (pembatasan kapal lewat jalur laut) yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan Iran setelah perundingan AS-Iran berakhir tanpa hasil. Ini meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak yang lebih lama.
Jepang lebih rentan terhadap guncangan pasokan energi dibanding Inggris karena porsi besar impor Jepang berasal dari Timur Tengah. Biaya impor yang lebih tinggi dapat menekan pertumbuhan dan mendorong inflasi (kenaikan harga).
Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda mengatakan ekonomi dan harga secara umum sesuai perkiraan, dan inflasi dasar (inflasi yang lebih “murni”, biasanya tidak terlalu dipengaruhi harga energi dan pangan yang bergejolak) bergerak menuju target bank sentral. Ia menyebut risiko inflasi bisa naik atau turun, dan kenaikan berkelanjutan pada ekspektasi inflasi (perkiraan publik dan pelaku pasar soal inflasi ke depan) yang dipicu ketegangan geopolitik dapat menaikkan inflasi dasar.
Di Inggris, biaya energi yang lebih tinggi dapat menambah tekanan inflasi dan menyulitkan kembali ke target 2%, sehingga ruang penurunan suku bunga makin terbatas. GBP/JPY juga ditopang selisih suku bunga Inggris-Jepang, sementara USD/JPY di dekat 160,00 tetap menjadi level yang sering dikaitkan dengan intervensi Jepang (aksi pemerintah/bank sentral di pasar valuta untuk menguatkan Yen).
Selisih Suku Bunga dan Risiko Intervensi
Reli GBP/JPY yang berlanjut, kini ke level tertinggi beberapa bulan di sekitar 214,87, didorong langsung oleh lonjakan harga minyak. Dengan Brent (patokan harga minyak global) naik lebih dari 12% dalam sebulan terakhir hingga diperdagangkan di atas US$115 per barel, Yen melemah lebih besar daripada Pound. Penyebabnya, Jepang mengimpor lebih dari 90% kebutuhan energi utamanya, sehingga sangat rentan terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Blokade laut yang menargetkan pelabuhan Iran menjadi pemicu utama tekanan pada Yen. Perkembangan ini memperkuat kecenderungan pasar untuk menjual Yen saat krisis energi, pola yang juga terlihat saat kekhawatiran pasokan pada akhir 2025. Ketegangan geopolitik ini membentuk tema transaksi yang kemungkinan bertahan dalam beberapa pekan ke depan.
Meski inflasi inti Jepang (ukuran inflasi yang menyaring komponen yang paling bergejolak) terakhir 2,5%, Bank of Japan kemungkinan tetap berhati-hati. Pernyataan Ueda mengindikasikan kekhawatiran bahwa biaya energi tinggi akan menekan permintaan konsumen, sehingga BoJ tidak agresif menaikkan suku bunga dari 0,10%. Kebijakan yang cenderung menahan suku bunga ini membuat Yen kurang menarik bagi pelaku pasar yang mencari imbal hasil lebih tinggi.
Di Inggris, kondisinya berlawanan karena inflasi inti yang sulit turun (inflasi yang bertahan tinggi) baru-baru ini dilaporkan 3,8%. Ini membuat Bank of England sulit mempertimbangkan pemangkasan suku bunga 5,25%, dan mendorong suku bunga tetap tinggi. Karena itu, selisih suku bunga Inggris dan Jepang berpotensi melebar, memberi dukungan bagi GBP/JPY.
Dengan latar belakang ini, strategi yang diusulkan adalah mengambil posisi yang diuntungkan bila GBP/JPY terus naik. Membeli opsi call (hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan strike 216,00 untuk beberapa pekan ke depan dapat menangkap potensi kenaikan sekaligus membatasi risiko maksimum. Carry positif (keuntungan dari selisih suku bunga saat memegang posisi) terus menarik aliran dana besar, yang dapat menopang pasangan ini.
Namun, risiko intervensi pemerintah perlu diwaspadai ketika USD/JPY mendekati level penting 160,00. Sebelumnya, otoritas Jepang melakukan intervensi besar untuk mendukung Yen pada 2022 dan 2024 saat mata uang melemah melewati ambang psikologis serupa. Karena itu, pemegang posisi beli dapat mempertimbangkan membeli opsi put out-of-the-money (hak jual dengan strike yang lebih rendah dari harga pasar saat ini) sebagai lindung nilai (perlindungan) terhadap pembalikan tajam.